Kota 'T', Bali, pertengahan musim kemarau. Kalau Sobat kebetulan lewat gang sempit di ujung kota itu suatu sore, mungkin Sobat akan melihat spanduk kecil bertuliskan "Yang Sederhana, Yang Jujur — Pameran Foto", dan galeri kecil di baliknya yang tetap sejuk oleh AC yang setia bekerja lembur, seolah tahu betul tugasnya lebih berat daripada gaji yang dibayarkan untuknya.Bedul datang ke pameran itu bukan karena diundang. Ia hanya lewat, dan entah kenapa kakinya berbelok sendiri, seolah kamera tua di lehernya yang menyeretnya masuk, sementara dompetnya di saku belakang berbisik pelan, "jangan beli apa-apa, ya."
Ia sudah lima tahun memotret. Lima tahun mengoleksi lensa yang harganya bisa buat DP motor, lima tahun menghafal segitiga eksposur sampai bisa dilafalkan sambil tidur, dan lima tahun juga gagal membuat satu foto yang benar-benar membuatnya bangga. Bukan gagal secara teknis — fotonya tajam, komposisinya rapi, warnanya matang. Tapi selalu ada yang kurang. Semacam foto yang bagus untuk dipuji sopan-sopan di kolom komentar, tapi tidak untuk dikenang.
Ia berjalan pelan menyusuri dinding galeri, melewati potret senja, potret sawah, potret anak-anak tertawa di pinggir pantai — semua bagus, semua rapi, semua terasa seperti sudah pernah ia lihat seribu kali di linimasa orang lain.
Sampai ia berhenti di satu foto yang ukurannya paling kecil di ruangan itu.
Hanya sebuah tangan. Tangan yang sedikit keriput, memegang satu tangkai bunga kamboja. Tidak ada wajah. Tidak ada latar dramatis. Pencahayaannya bahkan agak flat, seperti diambil begitu saja tanpa persiapan.
Tapi Bedul berdiri di depannya cukup lama sampai satpam galeri sempat dua kali melirik curiga, seolah mengira Bedul sedang merencanakan sesuatu yang tidak-tidak terhadap sebuah foto tangan.
Kok bisa, pikirnya, sesuatu yang sesederhana ini bicara sebanyak ini?
Ia tidak sadar bahwa tak jauh darinya, seorang perempuan berdiri diam-diam sambil mengangkat kamera film-nya, membidik bukan foto di dinding, melainkan dirinya sendiri — seorang pria yang tertegun di depan sebuah foto tangan, dengan ekspresi yang menurutnya jauh lebih menarik daripada apa pun yang terpajang di galeri hari itu.
Klik.
Suara rana itu kecil, tapi cukup untuk membuat Bedul menoleh.
"Maaf," kata perempuan itu, tersenyum tipis, tidak terlihat menyesal sama sekali. "Kamu berdiri terlalu lama di situ. Saya jadi penasaran."
"Penasaran sama fotonya, atau sama orang yang mematung di depannya?"
"Dua-duanya, sebenarnya." Ia mendekat, menatap foto yang sama. "Apa yang bikin kamu betah berdiri di sini selama itu? Bukan foto paling mencolok di ruangan ini, lho."
Bedul menjawab tanpa menoleh, matanya masih di foto itu.
"Justru itu. Foto ini nggak berusaha jadi mencolok. Sesederhana ini, tapi jujur banget. Nggak ada yang disembunyikan, nggak ada yang dipaksakan. Foto ini ngomong banyak, justru karena cara ngomongnya pelan."
Ia diam sejenak, lalu menambahkan, setengah tertawa pada dirinya sendiri, "Selama ini aku sibuk cari filter yang pas, angle yang dramatis, momen yang 'layak' difoto. Eh, ternyata yang paling susah dibuat itu justru yang paling sederhana kayak gini."
Ia akhirnya menoleh ke perempuan itu.
"Aku pernah coba bikin foto kayak gini. Sering, malah. Tapi nggak pernah sampai. Mirip mungkin, tapi... beda nyawa. Beda aura. Foto ini terlalu jujur. Dan siapa pun yang motret ini, dia berhasil 'menjebak' subjeknya apa adanya — tanpa subjeknya sadar sedang dijebak."
Ia kembali menatap foto itu, seperti tidak ingin menyudahi percakapan dengan diri sendiri.
Perempuan itu tersenyum. Bukan senyum basa-basi seorang pengunjung galeri. Ada sesuatu yang lebih hangat di sana, seperti seseorang yang baru saja mendengar sesuatu yang sudah lama ingin ia dengar — dari orang yang bahkan tidak tahu sedang bicara dengan siapa.
"Terima kasih," katanya, pelan.
Bedul mengernyit. "Untuk?"
Perempuan itu hanya menunjuk kecil ke arah label di bawah foto tangan itu. Sebuah nama.
Aling.
Bedul terdiam. Lalu tertawa — tawa yang campur aduk antara malu dan takjub.
"Serius? Kamu yang motret ini?"
"Serius. Dan selama tiga hari pameran ini buka," katanya, "kamu itu orang pertama yang bikin aku merasa fotonya benar-benar dilihat. Bukan sekadar dilewati sambil bilang 'bagus' terus lanjut ke foto sebelah."
Bedul menggaruk belakang kepalanya, kikuk. "Ya... habis fotonya emang bikin susah move on."
"Sama," katanya, mengangkat kameranya sedikit. "Fotomu tadi juga bikin aku susah move on."
Bedul menoleh cepat. "Fotoku yang mana?"
Aling hanya tersenyum, tidak menjawab, dan berjalan pelan menuju foto berikutnya — meninggalkan Bedul berdiri di sana, setengah bingung, setengah tersenyum.
(Bersambung ke Part 2: Ketika sebuah pesan singkat sebelum subuh mengubah segalanya...)
















