Hari ini agak lain dari biasanya.
Mood saya lagi di puncak — tipe mood yang bikin senyum sendiri waktu cuci muka pagi-pagi, padahal muka sendiri ya begitu-begitu saja. Bukan lebay, tapi memang ada alasannya: tadi siang, masuk satu email yang langsung mengubah ritme jantung saya dari irama kerja kantoran menjadi sesuatu yang lebih mirip intro lagu rock tahun 90-an.
Saya diminta jadi salah satu pembicara di acara bedah foto di kota "S".
Dua minggu lagi. Semua akomodasi ditanggung panitia — tiket pesawat PP, hotel, semua beres. Tinggal datang, duduk di depan, dan bicara soal foto di hadapan orang banyak.
Saya baca emailnya tiga kali. Bukan karena tidak percaya, bukan pula karena mata saya minus dan sering salah baca — tapi memang karena ingin menikmatinya lebih lama. Seperti menyesap kopi yang pas takarannya, sayang kalau buru-buru ditelan.
Dalam hati saya bergumam pelan: nah, ini dia. Pengakuan.
Selama ini saya memang tidak pernah merasa jadi fotografer kelas dua. Tapi diundang sebagai pembicara itu beda levelnya. Itu bukan sekadar "wah fotonya bagus" dari kolom komentar Instagram. Itu pengakuan resmi. Tersurat. Berkop surat.
Bukan kaleng-kaleng ternyata saya ini.
Sore sepulang kantor, langkah saya langsung mengarah ke kedai kopi langganan. Tempat yang sudah seperti markas kedua bagi kami — sekumpulan orang yang lebih sering berdebat soal komposisi dan cahaya daripada soal cicilan dan kenaikan gaji. Di sanalah kami biasa menghabiskan sore: fotografer, pelukis, penulis, dan satu orang yang sampai sekarang kami tidak tahu sebenarnya profesi aslinya apa tapi selalu ada tiap sore.
Saya ingin bercerita. Atau lebih jujurnya — saya ingin pamer.
Saya tahu itu. Saya akui itu. Tapi ya sudahlah, manusia wajar sesekali ingin dilihat.
Di sana sudah ada Bedul dan Jupri. Bedul duduk dengan lensa tua di tangannya — entah itu lensa baru yang sengaja ia bikin tampak tua, atau memang lensa tua yang ia rawat seperti anak kandung. Jupri memeluk cangkir kopinya dengan tatapan kosong ke arah jalanan, ekspresi khasnya yang selalu membuat orang berpikir ia sedang merenung padahal mungkin ia hanya mengantuk.
Setelah basa-basi sejenak soal cuaca yang tidak bisa diprediksi dan harga cetak foto yang makin tidak masuk akal, saya mulai bercerita.
Lengkap. Runtut. Dengan intonasi yang sudah saya atur sedemikian rupa agar terdengar rendah hati tapi tetap terasa membanggakan.
Reaksi mereka?
Datar.
Sangat datar.
Semendatar foto landscape yang salah horizon.
Bedul masih ngutak-ngatik lensanya. Jupri masih memeluk kopinya. Tidak ada sorak gembira, tidak ada tepuk tangan, bahkan tidak ada anggukan antusias. Setelah saya selesai bicara, Bedul menaruh kain lap-nya dengan sangat pelan — gerakannya seperti seseorang yang sedang menyiapkan diri untuk mengatakan sesuatu yang tidak akan enak didengar.
Ia menatap saya. Lalu tersenyum.
Tapi bukan senyum yang bikin nyaman. Senyum jenis itu — yang lebih mirip seseorang yang baru tahu bahwa teman baiknya salah pakai celana dalam.
"Terus," katanya santai, "menurut kamu, kamu diundang karena kamu memang layak?"
"Ya... iya lah," jawab saya, mulai sedikit tidak nyaman tapi masih belum menyerah. "Emang kenapa?"
Bedul menyeruput kopinya pelan. "Atau jangan-jangan... semua fotografer kawakan yang mereka tembak duluan pada nolak semua? Dan kamu cuma kebagian giliran karena masih mau diajak?"
Saya tertawa kecil. Tawa defensif. Tawa orang yang mulai tersinggung tapi belum mau keliatan tersinggung.
"Nggak mungkin lah, Dul—"
"Kamu sudah nanya ke panitia?" potong Bedul.
Saya terdiam.
Belum.
"Nah," kata Bedul, meletakkan cangkirnya. "Kamu tidak pernah cek itu, kan? Kamu langsung loncat ke kesimpulan yang paling enak buat ego kamu. Kamu cuma comot fakta yang kamu suka — namamu ada di undangan — terus buang sisanya. Fakta bahwa di kota 'S' itu ada puluhan fotografer senior yang jam terbangnya lebih tinggi dari kamu, itu kamu skip begitu saja. Itu namanya confirmation bias, Bung. Kamu tidak sedang berpikir. Kamu sedang bercermin — dan cerminnya sudah kamu set supaya selalu bilang kamu yang paling tampan."
Kali ini saya tidak punya jawaban yang bagus.
Jupri yang dari tadi diam akhirnya angkat bicara. Ia meletakkan cangkirnya pelan, menatap saya dengan ekspresi seorang dokter yang akan menyampaikan hasil lab.
"Dan," katanya tenang, "tadi kamu bilang di grup komunitas ramai ngucapin selamat. Likes-nya banyak. Kamu merasa itu semacam... validasi?"
"Ya, lumayan lah—"
"Kebenaran bukan hasil voting, kawan." Jupri menggeleng pelan. "Satu juta orang bisa salah serentak dan tetap salah. Kamu bisa upload foto yang biasa-biasa saja, dikasih filter yang tepat, di-post jam tujuh malam, dan dapat seribu likes dalam sejam. Itu bukan bukti bahwa fotomu bagus — itu bukti bahwa algoritmanya lagi baik hati hari itu."
Saya mau protes, tapi Jupri belum selesai.
"Yang lebih bahaya lagi — kamu mencampuradukkan antara fakta dan harapan. Kamu ingin ini jadi pengakuan atas kerja kerasmu selama ini. Kamu ingin ini jadi tanda bahwa kamu sudah sampai. Jadi otak kamu bekerja lembur untuk membuktikan bahwa iya, ini memang pengakuan itu. Padahal otak kamu tidak sedang mencari kebenaran — ia sedang mencari pembenaran. Itu berbeda, Bung. Sangat berbeda."
Saya menghela napas. "Tapi panitia sendiri yang bilang di email, dunia fotografi kita sekarang sedang bergerak menuju era keemasannya. Dan mereka menganggap karya-karya saya turut berkontribusi memperkaya visual di era ini. Itu makanya saya diundang, Pri."
Bedul tertawa. Tawa yang renyah, tulus, dan sedikit menyakitkan.
"Bung," katanya sambil mengusap mata, "panitia juga bilang hal yang sama ke semua pembicara yang mereka undang. Frasa 'era keemasan' dan 'memperkaya dunia fotografi' itu namanya basa-basi kuratorial yang profesional, bukan sertifikat keahlian resmi."
Ia menegakkan duduknya. "Coba pikir ulang — kontribusi konkret apa yang sudah kamu berikan untuk era keemasan ini? Bukan lomba lokal, bukan likes, bukan undangan. Kontribusi visual yang nyata yang mengubah cara orang melihat. Jangan malas mikir, Bung. Seni fotografi itu kompleks, dan kamu sedang menyederhanakannya sampai yang keliatan cuma pantulan ego kamu sendiri."
Saya menatap meja. Permukaan kayu yang sudah penuh lingkaran bekas cangkir dari ratusan obrolan sebelumnya. Tiba-tiba saya merasa sangat tertarik pada detail tekstur kayunya itu.
Jupri menepuk pundak saya. Pelan. Seperti menepuk seseorang yang baru saja jatuh dari motor — tidak terlalu keras, tapi cukup untuk bilang iya, saya tahu itu sakit.
"Dan satu lagi," katanya. "Kamu memenangkan lomba foto lokal bulan lalu, kan? Terus tiba-tiba dapat undangan ini. Lalu kamu otomatis menghubungkan keduanya — seolah lomba itu yang membuka pintu ini. Tapi kawan, dua hal yang terjadi berdekatan tidak selalu punya hubungan sebab-akibat. Itu bukan logika, itu kebetulan yang kamu paksa jadi narasi kemenangan."
Ia berhenti sebentar. Menyeruput kopinya.
"Intinya begini — pintar itu soal kapasitas. Tapi berpikir benar... itu soal keberanian untuk terus mempertanyakan isi kepala sendiri. Dan malam ini, kamu sedang tidak melakukan itu."
Kedai kopi itu mendadak terasa sangat sunyi bagi telinga saya.
Padahal sebenarnya musik dari speaker di sudut ruangan masih mengalun. Orang-orang di meja sebelah masih tertawa. Mbak kasir masih menggerakkan tangan di belakang meja.
Tapi bagi saya, semuanya terasa seperti adegan di film yang tombol suaranya tiba-tiba dikecilkan sampai nol.
Saya pulang malam itu dengan langkah yang berat.
(Bersambung ke Bagian 2)













