Matikan Layarmu, Nyalakan Instingmu: Rahasia Eksekusi Hitam Putih yang Ikonik
Setelah pada artikel bagian pertama yang punya judul: "Dosa Besar Fotografer Modern: Terlalu Sibuk Nyari Warna, Lupa Nyari Cahaya (Artikel Tulisan Bagian Pertama)" kita sepakat kalau warna sering kali cuma jadi "polusi suara" buat mata, sekarang saatnya kita masuk ke taktik lapangan gimana caranya bikin foto hitam putih Sobat punya kelas yang beda dari sekadar filter Instagram.
Tips "Radikal": Potret Saja, Matikan Fitur Review!
Ada satu kebiasaan salah seorang fotografer bernama James R. Burns yang mungkin bakal bikin Sobat yang hobi "chimping" (bentar-bentar liat layar) ngerasa tertantang dan punya semangat untuk mencoba. Si James R. Burns ini sengaja mematikan opsi preview atau review gambar setelah motret. Kenapa? Biar aliran kreativitasnya nggak keputus, Sobat!
Pas kita terus-terusan liat layar, kita jadi berhenti di tengah jalan dan kehilangan momen. Dengan mematikan review, Sobat jadi lebih mirip fotografer zaman film dulu—Sobat percaya sama insting, percaya sama kamera, dan terus bergerak untuk memotret. Sobat biarkan kamera menginterpretasi apa yang Sobat lihat, dan sering kali hasilnya bakal jadi kejutan manis pas Sobat kembali ke rumah (atau ke kosan, atau ke warung kopi, atau kemanapun) melihat apa-apa yang tadi Sobat jepret. Ini adalah latihan mental yang bagus buat ningkatin kepercayaan diri Sobat sebagai fotografer.
Mencari Keseimbangan di Tengah Kegelapan
Walaupun James suka banget sama hitam yang pekat, dia tetap ngingetin soal pentingnya keseimbangan. Sobat nggak bisa cuma punya foto yang isinya item semua (itu mah tutup lensa lupa dibuka, Sobat!). Harus ada proporsi cahaya yang pas.
Tugas Sobat adalah mencari interaksi yang menarik antara bagian yang terang dan yang gelap. Misalnya, bayangan dari tiang lampu yang jatuh ke trotoar beton, atau tekstur pohon Birch perak yang menonjol karena kontrasnya dengan latar belakang yang gelap. Bahkan dedaunan hijau pun bisa jadi subjek hitam putih yang dramatis kalau Sobat tahu gimana cara nangkep cahaya yang mantul di permukaannya.
Hati di Balik Lensa: Cerita dari Bradford
James motret di Bradford, kota kelahirannya. Dia tahu kalau kota itu punya reputasi yang mungkin kurang oke bagi sebagian orang, tapi lewat lensanya, dia nunjukin sisi indah kota itu. Ini pelajaran penting buat kita: foto yang bagus itu datang dari hati. Sobat nggak perlu pergi ke Paris atau New York buat dapet foto hitam putih yang keren.
Eksplorasi infrastruktur kota Sobat sendiri. Cari bangku metallic yang punya pola unik, cari dinding beton yang punya tekstur kasar, atau cari bayangan-bayangan abstrak di taman kota. Semakin Sobat kenal sama lokasi Sobat, semakin mudah Sobat nemuin "jiwa" dari tempat itu dalam bentuk monokrom.
Kesimpulan
Jadi, Sobat, siap buat ninggalin dunia penuh warna sebentar? Coba deh besok keluar rumah dengan niat khusus: "Hari ini saya cuma mau motret hitam putih". Atur kamera Sobat ke mode monokrom (biar di layar pun Sobat sudah lihat hitam putih), matikan fitur review, dan mulailah berburu cahaya dan bayangan. Ingat, hitam putih bukan sekadar gaya, tapi cara Sobat melihat dunia dengan lebih jujur dan mendalam. Jangan takut sama bayangan yang gelap, karena tanpa kegelapan, cahaya nggak bakal bisa bersinar seindah itu. Selamat menjepret, Sobat!
Demikianlah artikel dua babak ini, semoga Sobat Jepret semua bisa terhibur dan ada banyak senang saat membacanya.
Catatan singkat: Siapa tahu bisa menambah perbendaharaan, Sobat bisa juga mampir dan baca-baca artikel yang cukup representatif mengenai foto hitam putih di blog ini yang berjudul: "TIPS FOTO HITAM PUTIH...". Atau artikel ini: "BAGAIMANA MEMULAI FOTOGRAFI HITAM PUTIH (Sedikit saran dari Saya...Seseorang yang bukan fotografer !) - Bagian Pertama".







.jpeg)
.jpeg)