Senin, 20 Juli 2026

Bagian 1: Nasehat Sahabat Fotografer: Momen di Atas Angin dan Perangkap Ego



Beraban, Tabanan, Bali, Senin, 20 Juli 2026

Hari ini agak lain dari biasanya.

Mood saya lagi di puncak — tipe mood yang bikin senyum sendiri waktu cuci muka pagi-pagi, padahal muka sendiri ya begitu-begitu saja. Bukan lebay, tapi memang ada alasannya: tadi siang, masuk satu email yang langsung mengubah ritme jantung saya dari irama kerja kantoran menjadi sesuatu yang lebih mirip intro lagu rock tahun 90-an.

Saya diminta jadi salah satu pembicara di acara bedah foto di kota "S".

Dua minggu lagi. Semua akomodasi ditanggung panitia — tiket pesawat PP, hotel, semua beres. Tinggal datang, duduk di depan, dan bicara soal foto di hadapan orang banyak.

Saya baca emailnya tiga kali. Bukan karena tidak percaya, bukan pula karena mata saya minus dan sering salah baca — tapi memang karena ingin menikmatinya lebih lama. Seperti menyesap kopi yang pas takarannya, sayang kalau buru-buru ditelan.

Dalam hati saya bergumam pelan: nah, ini dia. Pengakuan.

Selama ini saya memang tidak pernah merasa jadi fotografer kelas dua. Tapi diundang sebagai pembicara itu beda levelnya. Itu bukan sekadar "wah fotonya bagus" dari kolom komentar Instagram. Itu pengakuan resmi. Tersurat. Berkop surat.

Bukan kaleng-kaleng ternyata saya ini.

Sore sepulang kantor, langkah saya langsung mengarah ke kedai kopi langganan. Tempat yang sudah seperti markas kedua bagi kami — sekumpulan orang yang lebih sering berdebat soal komposisi dan cahaya daripada soal cicilan dan kenaikan gaji. Di sanalah kami biasa menghabiskan sore: fotografer, pelukis, penulis, dan satu orang yang sampai sekarang kami tidak tahu sebenarnya profesi aslinya apa tapi selalu ada tiap sore.

Saya ingin bercerita. Atau lebih jujurnya — saya ingin pamer.

Saya tahu itu. Saya akui itu. Tapi ya sudahlah, manusia wajar sesekali ingin dilihat.

Di sana sudah ada Bedul dan Jupri. Bedul duduk dengan lensa tua di tangannya — entah itu lensa baru yang sengaja ia bikin tampak tua, atau memang lensa tua yang ia rawat seperti anak kandung. Jupri memeluk cangkir kopinya dengan tatapan kosong ke arah jalanan, ekspresi khasnya yang selalu membuat orang berpikir ia sedang merenung padahal mungkin ia hanya mengantuk.

Setelah basa-basi sejenak soal cuaca yang tidak bisa diprediksi dan harga cetak foto yang makin tidak masuk akal, saya mulai bercerita.

Lengkap. Runtut. Dengan intonasi yang sudah saya atur sedemikian rupa agar terdengar rendah hati tapi tetap terasa membanggakan.

Reaksi mereka?

Datar.

Sangat datar.

Semendatar foto landscape yang salah horizon.

Bedul masih ngutak-ngatik lensanya. Jupri masih memeluk kopinya. Tidak ada sorak gembira, tidak ada tepuk tangan, bahkan tidak ada anggukan antusias. Setelah saya selesai bicara, Bedul menaruh kain lap-nya dengan sangat pelan — gerakannya seperti seseorang yang sedang menyiapkan diri untuk mengatakan sesuatu yang tidak akan enak didengar.

Ia menatap saya. Lalu tersenyum.

Tapi bukan senyum yang bikin nyaman. Senyum jenis itu — yang lebih mirip seseorang yang baru tahu bahwa teman baiknya salah pakai celana dalam.

"Terus," katanya santai, "menurut kamu, kamu diundang karena kamu memang layak?"

"Ya... iya lah," jawab saya, mulai sedikit tidak nyaman tapi masih belum menyerah. "Emang kenapa?"

Bedul menyeruput kopinya pelan. "Atau jangan-jangan... semua fotografer kawakan yang mereka tembak duluan pada nolak semua? Dan kamu cuma kebagian giliran karena masih mau diajak?"

Saya tertawa kecil. Tawa defensif. Tawa orang yang mulai tersinggung tapi belum mau keliatan tersinggung.

"Nggak mungkin lah, Dul—"

"Kamu sudah nanya ke panitia?" potong Bedul.

Saya terdiam.

Belum.

"Nah," kata Bedul, meletakkan cangkirnya. "Kamu tidak pernah cek itu, kan? Kamu langsung loncat ke kesimpulan yang paling enak buat ego kamu. Kamu cuma comot fakta yang kamu suka — namamu ada di undangan — terus buang sisanya. Fakta bahwa di kota 'S' itu ada puluhan fotografer senior yang jam terbangnya lebih tinggi dari kamu, itu kamu skip begitu saja. Itu namanya confirmation bias, Bung. Kamu tidak sedang berpikir. Kamu sedang bercermin — dan cerminnya sudah kamu set supaya selalu bilang kamu yang paling tampan."

Kali ini saya tidak punya jawaban yang bagus.

Jupri yang dari tadi diam akhirnya angkat bicara. Ia meletakkan cangkirnya pelan, menatap saya dengan ekspresi seorang dokter yang akan menyampaikan hasil lab.

"Dan," katanya tenang, "tadi kamu bilang di grup komunitas ramai ngucapin selamat. Likes-nya banyak. Kamu merasa itu semacam... validasi?"

"Ya, lumayan lah—"

"Kebenaran bukan hasil voting, kawan." Jupri menggeleng pelan. "Satu juta orang bisa salah serentak dan tetap salah. Kamu bisa upload foto yang biasa-biasa saja, dikasih filter yang tepat, di-post jam tujuh malam, dan dapat seribu likes dalam sejam. Itu bukan bukti bahwa fotomu bagus — itu bukti bahwa algoritmanya lagi baik hati hari itu."
Saya mau protes, tapi Jupri belum selesai.

"Yang lebih bahaya lagi — kamu mencampuradukkan antara fakta dan harapan. Kamu ingin ini jadi pengakuan atas kerja kerasmu selama ini. Kamu ingin ini jadi tanda bahwa kamu sudah sampai. Jadi otak kamu bekerja lembur untuk membuktikan bahwa iya, ini memang pengakuan itu. Padahal otak kamu tidak sedang mencari kebenaran — ia sedang mencari pembenaran. Itu berbeda, Bung. Sangat berbeda."

Saya menghela napas. "Tapi panitia sendiri yang bilang di email, dunia fotografi kita sekarang sedang bergerak menuju era keemasannya. Dan mereka menganggap karya-karya saya turut berkontribusi memperkaya visual di era ini. Itu makanya saya diundang, Pri."

Bedul tertawa. Tawa yang renyah, tulus, dan sedikit menyakitkan.

"Bung," katanya sambil mengusap mata, "panitia juga bilang hal yang sama ke semua pembicara yang mereka undang. Frasa 'era keemasan' dan 'memperkaya dunia fotografi' itu namanya basa-basi kuratorial yang profesional, bukan sertifikat keahlian resmi."

Ia menegakkan duduknya. "Coba pikir ulang — kontribusi konkret apa yang sudah kamu berikan untuk era keemasan ini? Bukan lomba lokal, bukan likes, bukan undangan. Kontribusi visual yang nyata yang mengubah cara orang melihat. Jangan malas mikir, Bung. Seni fotografi itu kompleks, dan kamu sedang menyederhanakannya sampai yang keliatan cuma pantulan ego kamu sendiri."

Saya menatap meja. Permukaan kayu yang sudah penuh lingkaran bekas cangkir dari ratusan obrolan sebelumnya. Tiba-tiba saya merasa sangat tertarik pada detail tekstur kayunya itu.

Jupri menepuk pundak saya. Pelan. Seperti menepuk seseorang yang baru saja jatuh dari motor — tidak terlalu keras, tapi cukup untuk bilang iya, saya tahu itu sakit.

"Dan satu lagi," katanya. "Kamu memenangkan lomba foto lokal bulan lalu, kan? Terus tiba-tiba dapat undangan ini. Lalu kamu otomatis menghubungkan keduanya — seolah lomba itu yang membuka pintu ini. Tapi kawan, dua hal yang terjadi berdekatan tidak selalu punya hubungan sebab-akibat. Itu bukan logika, itu kebetulan yang kamu paksa jadi narasi kemenangan."

Ia berhenti sebentar. Menyeruput kopinya.

"Intinya begini — pintar itu soal kapasitas. Tapi berpikir benar... itu soal keberanian untuk terus mempertanyakan isi kepala sendiri. Dan malam ini, kamu sedang tidak melakukan itu."

Kedai kopi itu mendadak terasa sangat sunyi bagi telinga saya.

Padahal sebenarnya musik dari speaker di sudut ruangan masih mengalun. Orang-orang di meja sebelah masih tertawa. Mbak kasir masih menggerakkan tangan di belakang meja.

Tapi bagi saya, semuanya terasa seperti adegan di film yang tombol suaranya tiba-tiba dikecilkan sampai nol.

Saya pulang malam itu dengan langkah yang berat.

(Bersambung ke Bagian 2)

Sabtu, 18 Juli 2026

Pengakuan Fotografer Pendosa: 5 Kesalahan Fatal yang Mengubah Momen Hunting Jadi Sampah Digital (Tulisan Bagian Kedua)



Beraban, Tabanan, Bali, Sabtu, 18 Juli 2026

Bagian Kedua: 3 Dosa yang Baru Ketahuan Waktu Sudah di Depan Laptop


Tiga dosa berikutnya ini sifatnya lebih personal—soal celana kotor, keberanian menyapa orang asing, sampai kekejaman kita saat menghapus file. Siap mengakui dosa selanjutnya, Sobat?


3. Ogah Kotor: Takut Mencoba Sudut Ekstrem


Sobat, mari jujur. Berapa banyak dari kita yang datang ke lokasi hunting dengan pakaian rapi jali, sepatu mengkilap, dan wewangian semerbak, seolah mau menghadiri resepsi pernikahan alih-alih berkubang di rawa-rawa demi satu foto matahari terbit?

Hasilnya, kita jadi fotografer yang manja. Takut tiarap karena tanahnya becek. Ogah memanjat pohon karena takut jins robek dan videonya viral di grup keluarga. Malas jongkok terlalu rendah karena takut encok kambuh dan besoknya harus ke tukang urut. Kita akhirnya bermain aman—berdiri tegak, kamera sejajar mata, jepret, beres, pulang, mandi. Hasilnya? Datar. Padahal foto yang bikin orang berhenti scrolling itu biasanya lahir dari fotografer yang rela pulang belepotan lumpur, siku lecet, napas ngos-ngosan kayak habis dikejar anjing kampung.


4. Fotografer Introvert: Kurang Berinteraksi dengan Subjek


Ini sering terjadi pada pemburu foto street atau human interest. Kita berpolah seperti agen rahasia yang sedang mengintai buronan—mengumpet di balik tiang, berkamuflase di balik lapak pasar, lalu menjepret subjek diam-diam pakai lensa tele sepanjang meriam dari jarak 50 meter.

Hasilnya bisa ditebak: foto kaku, ekspresi subjek penuh kecurigaan (atau malah ketakutan karena merasa dikuntit), dan yang tersisa cuma ampas tanpa jiwa. Padahal pengaturan ISO, shutter speed, dan aperture secanggih apa pun, sebagus apa pun spesifikasi kamera yang menguras tabungan tiga bulan, tidak akan bisa menggantikan senyuman dan sapaan tulus yang gratis tanpa cicilan. Menurunkan kamera sejenak, mengobrol, menanyakan kabar, dan meminta izin baik-baik sering kali membuka pintu menuju ekspresi yang jauh lebih magis dan jujur. Kita sering kali lebih takut ditolak manusia daripada takut kehilangan momen—padahal ditolak paling cuma bikin baper lima menit, sementara momen yang hilang bisa disesali seumur hidup.

Kalau dosa ini soal apa yang kita lewatkan di lapangan, dosa terakhir justru soal apa yang sengaja kita buang sendiri.


5. Jari Terlalu Lincah: Membuang File Mentah Terlalu Cepat


Penyesalan terakhir terjadi di depan laptop saat proses kurasi—ruang sunyi tempat ego fotografer diadili tanpa ampun. Dengan semangat membara layaknya juri kompetisi memasak, kita menyeleksi foto. Begitu melihat foto yang agak gelap, under-exposure, atau komposisinya miring beberapa derajat, jari kita dengan kejam langsung menekan tombol Delete. "Ah, sampah!" pikir kita, sok yakin seperti kurator museum berpengalaman puluhan tahun.

Jangan buru-buru, Sobat. Selera seni kita itu dinamis, berkembang seiring jam terbang—persis seperti selera musik yang dulu norak, sekarang jadi nostalgia. Foto yang hari ini Sobat anggap gagal karena "tidak sesuai standar tren saat ini", bisa jadi tiga tahun ke depan malah terlihat sangat artistik dan punya cerita mendalam di matamu yang sudah lebih dewasa. Menghapus file RAW terlalu cepat sama saja membakar buku harian masa lalu hanya karena tulisan tangannya jelek; Sobat tidak akan pernah tahu nilai berharganya sampai sudah terlambat, dan yang tersisa hanya folder kosong bernama "Hunting_2023_FINAL_FIX_REVISI2".

Demikianlah, Sobat, lima dosa yang nyaris tak terampuni yang pernah dilakukan sebagian fotografer—termasuk saya sendiri, dengan bangga dan tanpa penyesalan yang berarti. Semoga dosa-dosa ini tak pernah Sobat lakukan semuanya sekaligus dalam satu sesi hunting, kasihan mental Sobat. Tapi kalau ternyata Sobat sudah mengulanginya tahun demi tahun dengan bangga—selamat, Sobat secara de facto sudah jadi anggota klub eksklusif "fotografer pendosa", tanpa formulir pendaftaran, tanpa iuran bulanan. Dan saya? Anggota tetap sekaligus salah satu pendirinya, plus pemegang rekor dosa terbanyak dalam satu hari.

Salam jepret selalu, dan semoga kartu memori kita semua panjang umur!

Catatan tambahan:

Kamera secanggih apa pun tidak akan bisa menangkap emosi jika ada jarak ego di antara Anda dan subjek. Menurunkan lensa selama 2 menit untuk sekadar mengangguk atau menyapa sering kali menjadi pembeda antara "foto curian yang hambar" dan "karya seni yang bercerita".

Kamis, 16 Juli 2026

Pengakuan Fotografer Pendosa: 5 Kesalahan Fatal yang Mengubah Momen Hunting Jadi Sampah Digital (Tulisan Bagian Pertama)



Beraban, Tabanan, Bali, Kamis, 16 Juli 2026

Bagian Pertama: 2 Dosa yang Bikin Kamu Kehilangan Momen di Lapangan


Bagi sebagian fotografer (atau yang hobi jepret seperti saya), hunting foto adalah ritual suci mencari kedamaian dan estetika. Tapi bagi kita yang memegang kamera, pulang hunting sering kali berubah menjadi sesi sidang pleno penyesalan di dalam kepala—lengkap dengan hakim, jaksa, dan terdakwa yang semuanya adalah diri kita sendiri. Begitu duduk di warung kopi sambil selonjoran kaki, atau saat menyetir motor sambil menikmati pantat yang panas karena macet, memori di kepala kita mendadak memutar ulang semua kebodohan yang kita lakukan sepanjang hari, lengkap dengan slow motion dan backsound sendu seolah sedang menonton adegan perpisahan di sinetron.

Sobat, mari kita bedah satu per satu dosa-dosa tak terampuni yang sering kita lakukan, yang sukses mengubah mahakarya menjadi sekadar tumpukan file sampah di harddisk—file yang bahkan tidak layak dijadikan wallpaper laptop adik sendiri.


1. Sindrom Menunduk: Terlalu Fokus pada Layar LCD


Dosa pertama dan paling universal adalah menyembah layar LCD 3 inci di belakang kamera seolah itu cermin ajaib yang akan memuji, "Sobat fotografer paling tampan hari ini." Kita sering kali lebih peduli apakah foto yang barusan diambil itu tajam, ketimbang melihat apa yang sedang terjadi di depan mata—padahal dunia nyata sedang tayang gratis, tanpa buffering, tanpa iklan.

Bayangkan skenarionya, Sobat. Sobat sedang di pantai, lalu ada ombak besar menghantam batu karang dengan dramatis, seolah alam sedang syuting film epik. Sobat berhasil memotretnya. Alih-alih bersiap untuk momen berikutnya, Sobat malah sibuk menunduk, menekan tombol zoom-in sampai ke pori-pori air, sambil tersenyum bangga seperti baru menang lotre. Tepat saat itu, seekor burung camar melesat menyambar ikan tepat di atas ombak tadi—momen sekali seumur hidup, National Geographic banget. Dan Sobat melewatkannya hanya demi memastikan foto ombak tadi tidak blur sepersekian pixel. Kamera kita punya lensa canggih seharga motor bekas, tapi mata kita malah rela dijajah layar sebesar kartu ATM.

Sialnya, dosa ini jarang datang sendirian. Begitu kepala kita sibuk menunduk, kepercayaan diri kita justru melambung—dan di situlah dosa kedua mulai mengintai.


2. Berjudi dengan Takdir: Melupakan Cadangan Data Penting


Ini penyakit kronis bernama "Rasa Percaya Diri di Luar Nalar"—tidak diajarkan di fakultas kedokteran manapun, tapi diidap hampir semua fotografer. Banyak dari kita merasa kartu memori merek antah-berantah yang dibeli online dengan diskon 70% ongkir gratis itu punya ketahanan setara brankas baja di Bank Swiss, bahkan lebih kuat dari janji politikus saat kampanye.

"Ah, aman, baru beli bulan lalu kok," begitu pikir Sobat, penuh percaya diri layaknya kapten Titanic yang yakin kapalnya tak akan tenggelam. Sobat pun menjepret ratusan foto RAW sepanjang hari tanpa beban. Sialnya, penyesalan itu datang tanpa permisi, tanpa notifikasi peringatan dini seperti gempa bumi. Begitu sampai rumah dan memasukkan kartu itu ke laptop, muncul tulisan indah nan mematikan: "Card Error. Please Format." Rasanya seperti diselingkuhi teknologi di depan mata sendiri. Kehilangan seluruh data hasil hunting karena malas bawa kartu cadangan adalah komedi tragis terbaik di dunia fotografi—setara tragedi Yunani kuno, hanya saja tokoh utamanya pakai vest fotografer.

Dua dosa di atas memang sering menjadi pembunuh momen paling kejam di lapangan. Tapi itu baru permulaan. Masih ada tiga dosa lainnya yang sering kita lakukan saat sudah merasa sok ahli—mulai dari gaya hidup fotografer yang manja sampai tindakan kejam kita saat berada di depan laptop. Jangan ke mana-mana, kita bongkar sisanya di bagian kedua. Stay tuned, fotografer pendosa!

Lanjut ke Bagian Kedua: 3 dosa terakhir yang belum sempat kita akui.

Senin, 13 Juli 2026

Jawaban yang Tertunda 22 Tahun (Bagian 2): Menggali Kapsul Waktu yang Terkubur 22 Tahun



Beraban, Tabanan, Bali, Senin, 13 Juli 2026

Sambungan dari bagian pertama...

Setelah dua dekade, kertas yang dulu saya tulis dengan jemari gemetar dan modal nekat akhirnya kembali ke tangan saya di sebuah sudut di Bali. Kertas ini bukan lagi sekadar tumpukan serat kayu yang menguning—mirip warna gigi perokok berat seperti saya—melainkan sebuah kapsul waktu yang menyimpan gema suara Mei dan kebisingan Jakarta yang telah lama hilang. Saat membuka lipatannya kembali di bawah lampu kamar yang temaram, saya sadar saya tidak sedang membaca tutorial kamera; saya sedang dipaksa berhadapan dengan diri saya sendiri versi 22 tahun lalu—seorang laki-laki yang naif, sok puitis, dan setengah mati ketakutan kehilangan gadis Tionghoa bermata bulan sabit itu.


Dua Tahun Kemudian: Menulis Utang untuk yang Tak Pernah Kembali


Dua tahun berselang setelah pertemuan itu, setelah semakin dalam menggeluti fotografi (dan semakin sadar bahwa saya tidak akan pernah bisa membeli lensa mahal tanpa menjual ginjal), saya akhirnya duduk dan menulis jawaban yang seharusnya saya berikan waktu itu. Rencananya sederhana: kalau suatu hari saya berjumpa Mei lagi, saya akan sodorkan tulisan ini padanya sebagai bukti kalau saya tidak sebodoh hari itu.


Berikut jawaban itu, saya salin apa adanya dari dua lembar kertas yang sudah menguning:


Karena fotografi merupakan bentuk buku harian yang tepat bagi saya. Buku harian yang berisi apa saja yang saya lihat, ke mana saya pergi, dan cerita apa yang saya dengar. Semuanya terekam dalam sebuah citra.

Saya bisa mengungkapkan isi hati melalui foto, atas apa yang sudah dilalui bersama berjalannya hari. Saya bisa mengunggah semua yang saya rekam ke akun saya agar bisa melihatnya kembali dengan mudah, tanpa harus mengorek isi memori. Ya, saya sudah punya kewaspadaan dini akan penyakit pikun—sepertinya kebiasaan mengamankan ingatan ini dimulai lebih awal dari yang saya kira.

Momen-momen berlalu secara alamiah, seolah dunia memudahkan saya untuk menggambarkan apa yang sedang saya risaukan. Tak jarang, ketika sedang merasakan sesuatu, saya justru mendapatkan foto yang menjadi cerminan keadaan saya saat itu.

Dan keuntungan semakin menggeluti fotografi, saya jadi lebih awas dan menghargai waktu serta kenangan di sekitar saya—walau harus diakui, ini terkesan sedikit narsis. Saya yang dulu cuek pada hal-hal kecil, kini justru jatuh cinta pada hal-hal receh namun berarti. Bahkan, saat membuka galeri di rumah, saya sering tidak percaya sendiri: kok bisa-bisanya saya memotret momen seperti ini? Sesuatu yang biasa saja bisa menjelma jadi berharga. Tanpa fotografi, momen-momen ini mungkin sudah lama menguap dari ingatan, tak pernah dianggap istimewa.

Saya punya mimpi mencetak seluruh karya dan membukukannya jadi album besar. Sayangnya, dompet masih tak mau sepakat dengan mimpi itu, jadi untuk sekarang media sosial menjadi galeri pribadi saya—galeri gratis, meski algoritmanya kadang menyebalkan dan lebih ramah pada konten joget-joget.

Fotografi juga menjadi pelarian bagi imajinasi saya yang dulunya tersalur lewat gambar di atas kertas. Saat kemampuan menggambar terasa mentok, saya "mundur teratur" dan menemukan medium baru: kamera. Lewat sinilah saya bisa memproyeksikan visual dari kepala saya menjadi nyata.

Lewat fotografi, saya juga ingin bercerita pada diri saya di masa depan—seperti apa kota Jakarta yang saya benci sekaligus cintai ini dulu terlihat. Wajah masyarakatnya, gaya hidupnya, segala tingkah lakunya: sebuah kapsul waktu yang saya siapkan sejak dini, tanpa perlu izin dari siapa pun.

Dan pada akhirnya, saya sadar: diri ini bukanlah siapa-siapa. Sekeras apa pun berusaha bersinar, bintang yang memaksa jadi paling terang pun cepat atau lambat akan meledak, hancur, lenyap ditelan kehampaan. Saya yang menulis jawaban ini hanyalah titik kecil tak kasat mata—bahkan butiran pasir masih lebih besar massanya. Namun justru karena keberadaan yang terasa makin redup inilah, fotografi menjadi penanda: bahwa saya pernah ada, dan pernah menjalani hidup sebisa-bisanya.


Ditemukan Kembali, 22 Tahun Kemudian


Begitulah jawaban saya. Tersusun rapi dalam tulisan tangan, di atas dua lembar kertas yang kini sudah menguning—seperti warna gigi perokok berat atau harapan-harapan masa muda saya yang rontok satu per satu.
Saya benar-benar lupa pernah menulis ini—sampai saya menemukannya tak sengaja saat sedang beres-beres rak buku di Bali. Lipatan kertas itu jatuh begitu saja, dan saat saya memungutnya lalu membaca ulang, rasanya seperti dihantam truk fuso bermuatan rindu tanpa peringatan klakson.

Satirnya adalah: takdir ternyata punya selera humor yang bajingan. Dia memberi saya kesempatan untuk mengagumi Mei, menciptakan momen manis di tepi jalan dengan kopi starling, lalu langsung menariknya pulang tanpa opsi retur. Pertemuan kami sangat singkat. Begitu singkat hingga saya bahkan belum sempat menjadi seseorang yang "pantas" untuk bersanding di dekatnya—atau minimal punya modal untuk membelikannya kopi di kafe beneran, bukan di pinggir jalan.

Maaf, Mei. Saya bohong di draf pertama tulisan ini dengan memanggilmu Panjul. Saya hanya terlalu pengecut untuk mengakui pada dunia—atau pada diri saya sendiri—bahwa 22 tahun telah berlalu, dan saya masih menjadi orang yang sama: pria yang gagal menjawab pertanyaanmu secara langsung, dan sekarang hanya bisa merawat rindu sendirian lewat jendela bidik kamera.

Sudah lebih dari dua dekade, Mei. Rambut saya mungkin sudah mulai banyak yang mengajukan pensiun dini alias rontok, Jakarta tempat kita nongkrong dulu sudah berubah jadi makin macet, berpolusi, dan tenggelam oleh ambisi, sementara saya sekarang terdampar di Bali. Tapi di dalam kepala saya yang mulai lambat ini, kamu masih gadis Tionghoa yang manis di tepi jalan itu, yang sedang menunggu jawaban bodoh saya.

Saya masih terus berdoa pada Tuhan yang kadang suka bercanda ini: semoga saya masih diberi satu kali lagi kesempatan untuk bertemu kamu. Cuma untuk menyodorkan kertas usang ini, lalu berkata:

"Ini jawaban gue, Mei. Sori telat 22 tahun. Bunganya udah numpuk, mau dibayar pakai kopi starling lagi, atau mau gue beliin Starbucks sekalian sama tokonya?"

Bali, 8 Juli 2026.

Catatan ingatan: Jakarta, 6 Juli 2004.

Sabtu, 11 Juli 2026

Jawaban yang Tertunda 22 Tahun (Bagian 1): Sore di Jakarta dan Pertanyaan dari Mei



Beraban, Tabanan, Bali, Sabtu, 11 Juli 2026

Saya baru saja melakukan hal paling memalukan yang mungkin dilakukan seorang penulis: lupa kalau saya pernah menulis sesuatu. Bukan, saya belum pikun—setidaknya itu yang selalu saya yakinkan pada diri sendiri sambil menyimpan tanggal lahir orang tua di notes HP, jaga-jaga kalau ternyata saya diserang penyakit pikun mendadak. Saya juga tidak sedang sombong sampai lupa pernah menjawab pertanyaan seseorang lewat dua lembar kertas. Saya cuma... pengecut. Dan pelupa. Kombinasi yang sangat efisien untuk merusak masa muda.


Mengaso, Kopi, dan Satu Pertanyaan dari Gadis Tionghoa yang Manis


Ceritanya begini. Di versi tulisan yang sempat ingin saya publikasikan (baca: saya pamerkan), saya menyebut tokoh dalam cerita saya ini sebagai "Panjul". Sebuah nama samaran yang sangat tidak estetik, kasar, dan murni saya ciptakan sebagai tameng ego agar hati saya tidak mendadak rontok saat mengetiknya.

Kenyataannya? Dia jelas bukan Panjul. Dia seorang perempuan. Gadis manis Tionghoa, namanya Mei. Pintar, dan tipe perempuan yang membuat setiap laki-laki sadar bahwa semesta ini hobi melakukan diskriminasi genetik dengan menciptakan standar perempuan yang terlalu tinggi.

Mei adalah bentuk dari anomali yang sebenarnya. Perwujudan dari jeda yang tenang di tengah bisingnya Jakarta. Dia punya cara tersenyum yang tidak langsung meledak—bukan tawa lepas yang berisik, melainkan tarikan tipis di sudut bibir yang membuat matanya yang sipit menyempit membentuk bulan sabit. Senyum yang seolah tahu rahasia kecil bahwa semesta ini memang sedang berantakan, tapi tidak apa-apa.

Dan tatapannya? Oh, itu adalah bagian yang paling berbahaya. Mei tidak memandang, dia mengamati. Ada keteduhan di sana, jenis tatapan yang membuat orang seperti saya—yang saat itu cuma bocah kurang percaya diri dengan kamera pinjaman—merasa sedang dilihat sampai ke bagian yang paling jujur.

Belum lagi suaranya. Bagi saya, itu adalah melodi paling merdu di antara riuh knalpot metromini yang bersahut-sahutan di jalanan. Rendah, tenang, dengan aksen yang lembut. Setiap kali dia bicara, seolah-olah kebisingan Jakarta di sekitar kami teredam secara otomatis. Suara itu begitu kontras dengan tempat kami nongkrong—di antara bau asap rokok, aspal panas, dan gelas plastik kopi saset yang mulai berembun.

Sore itu, 22 tahun lalu—ya, 22 tahun, bukan 10 tahun seperti yang sengaja saya korting di draf awal agar rindu ini tidak terdengar mengenaskan dan berkarat—kami sedang mengaso di tepi jalan, selepas sesi foto komunitas di Jakarta.

Kami sengaja menyingkir dari rombongan, bukan karena ingin membuat drama romantis ala FTV, tapi murni karena rasa minder yang akut. Saat itu kami baru dua bulan menyelam di dunia fotografi, sementara rekan-rekan lain sudah punya jam terbang setinggi awan dan ego setinggi langit. Istilah-istilah teknis yang mereka lontarkan terdengar seperti bahasa asing—entah f-stop, ISO, atau bokeh, semuanya terdengar seperti mantra pesugihan yang belum kami kuasai demi mendapatkan foto yang "berjiwa".

Jadi kami memilih pojokan sendiri yang kurang estetik, memesan kopi dari abang-abang starling—penyelamat sejati anak nongkrong modal cekak se-Indonesia—sambil menyulut rokok (hanya saya yang merokok, Mei tidak. Dia memang tidak merokok, namun dia tak melarang saya merokok saat itu. Dia hanya tersenyum sambil bilang; “Jangan terlalu banyak ngerokok, nanti sakit”). Di situlah, di antara kepulan asap dan uap kopi saset murah, Mei menatap saya dengan matanya yang sipit dan bertanya iseng:

"Kenapa sih lo suka fotografi?"

Dan saya, dengan segala kebijaksanaan seorang pemula modal nekat, menjawab dengan penuh kedalaman filosofis:

"Ya, suka aja sih. Nggak ada penjelasan lain."

Runtuh sudah martabat saya sebagai pria yang mencoba terlihat keren di depan gadis pujaan. Lord Rangga pun mungkin akan menangis melihat betapa tidak bermutunya kualitas otak saya saat itu.

Obrolan lanjut ke topik-topik receh, dan pertanyaan itu pun terkubur. Tapi begitu sampai kos saya yang pengap, pertanyaan Mei terus terngiang seperti tagihan pinjol ilegal. Saya menyesal setengah mati—kenapa tadi tidak jawab lebih panjang dan puitis? Mengapa insting bertahan hidup saya begitu lemah di depan perempuan manis yang satu ini? Jadi saya memilih diam, dan memelihara utang itu diam-diam.

Namun, takdir ternyata punya selera humor yang bajingan. Dua puluh dua tahun kemudian, saat sedang merapikan rak buku di Bali, dua lembar kertas yang sudah menguning jatuh begitu saja ke lantai. Saat saya memungut dan membaca ulangnya, rasanya seperti dihantam truk fuso bermuatan rindu tanpa peringatan klakson. Di sana, tertulis jawaban yang selama ini terkubur—jawaban puitis nan keren yang seharusnya saya berikan untuk memikat hati Mei sore itu, bukan jawaban sekadar 'ya suka aja' yang bikin IQ saya terlihat minus. Tapi, benarkah jawaban ini masih layak dibaca, atau sudah basi dan berjamur dimakan waktu? Temukan isi surat yang telat 22 tahun ini di bagian kedua.