Rak di studio Amir memuat sebelas trofi, semuanya dihadapkan ke pintu supaya tamu langsung melihatnya. Tamunya memang jarang. Tapi barisan trofi itu tetap ditata, seperti menata kesombongan yang semu.
Minggu Pagi
Orang yang mengenalnya hari ini sulit membayangkan bahwa dulu Amir hanyalah anak bawang di Komunitas Foto Minggu Pagi: dua belas orang yang berkumpul di taman kota setiap pukul setengah enam, sebelum matahari terlalu galak untuk cahaya yang cantik.
Kamera pertamanya pinjaman Pak Broto, DSLR tua dengan shutter seret dan gagang karet yang berbau lem.
"Jangan dipencet seperti menagih utang," kata Pak Broto saat menyerahkannya. "Pelan. Kamera itu bisa merasakan."
Itu tentu tidak benar. Tapi Amir mempercayainya selama tiga bulan, dan fotonya membaik.
Pak Broto adalah ketua komunitas sekaligus satu-satunya orang di kampung itu yang memiliki dua tripod. Bu Dinar, guru seni rupa yang sudah pensiun, adalah juri tak resmi: matanya setajam silet, lidahnya tidak jauh berbeda.
"Komposisimu sesak, Mir. Kasih ruang napas," katanya suatu Minggu, menunjuk foto Amir dengan ujung sandal jepitnya.
Amir cemberut, lalu mencatat kalimat itu diam-diam di ponsel. Catatan itu masih ada sampai sekarang, terselip di antara daftar belanja dan kata sandi, meski tidak pernah dibuka lagi.
Ada pula Koh Hendra, yang bersumpah film analog lebih jujur daripada digital dan membuktikannya dengan sembilan dari sepuluh foto gelap. Ada Rian, anak SMK yang datang naik sepeda tanpa kamera sama sekali, sehingga memotret dengan milik siapa pun yang sedang berbaik hati.
Mereka gantian memakai lensa, membagi lontong bekal di bawah pohon tanjung, dan membagi kegagalan. Foto blur ditertawakan, tapi dengan sayang. Foto bagus dikritik habis-habisan, juga dengan sayang. Di sana, memuji dianggap sopan dan mengkritik dianggap peduli, dan tak seorang pun merasa itu perlu dijelaskan.
Foto Si Pemulung
Foto itu lahir pada Minggu yang basah. Hujan turun tanpa pamit, dan sementara yang lain berlari ke gazebo, Amir bertahan di bawah jas hujan plastik pinjaman Bu Dinar, mengarahkan kamera pinjaman Pak Broto ke Pak Sarmin, pemulung yang tiap pagi memungut botol di taman itu.
Pak Sarmin sedang tertawa. Seekor kucing baru saja menyambar bungkus nasi yang ia taruh di bangku. Mulutnya terbuka lebar, giginya tinggal separuh, air hujan mengalir di kerut wajahnya seperti sungai kecil. Amir menekan shutter. Pelan, seperti pesan Pak Broto.
Foto itu menang lomba fotografi nasional. Dalam semalam ia menyebar ke ratusan ribu layar, dan ribuan komentar memuji "mata jenius" di balik lensa. Tidak ada satu pun yang menanyakan nama si pemulung, termasuk Amir.
Wartawan mulai berdatangan. "Apa rahasia di balik foto ini?" tanya seorang reporter televisi lokal, sambil membetulkan rambutnya di layar kamera.
Amir terdiam sebentar. Ia bisa saja menyebut hujan, kucing, Pak Sarmin, jas hujan Bu Dinar, atau kamera yang bukan miliknya. Tapi lampu sorot punya cara sendiri membuat orang lupa daftar nama.
"Insting," jawabnya. "Saya hanya mengikuti insting."
Kalimat itu dipotong jadi kutipan, dipotong lagi jadi poster, dan dibagikan seribu kali. Sebuah merek kamera ternama menawarinya endorsement. Seorang pria berkemeja ketat menyebut kata personal branding sebelas kali dalam satu pertemuan, dan Amir mengangguk sebelas kali. Biodata Instagram-nya berganti menjadi:
Self-taught. Self-made. Self-everything.
Kata self itu begitu sering ia ulang sampai ia lupa ada kata lain.
Centang Biru
Ia berhenti datang ke taman kota dengan alasan sopan: sedang padat jadwal. Seminggu, dua minggu, lalu jadwalnya padat selamanya. Grup WhatsApp komunitas ia bisukan, kemudian ia tinggalkan tanpa pamit, seanggun orang yang pulang dari arisan setelah makan.
Pak Broto sempat mengirim ucapan selamat setelah foto itu menang. Pesannya panjang, dengan tiga tanda seru dan emoji jempol yang salah tempat, khas orang yang baru belajar mengetik di ponsel. Amir membacanya di sela rapat dengan sponsor. Centang biru. Tidak dibalas.
Bu Dinar mengirim satu kalimat saja:
"Mir, kapan-kapan mampir. Ibu ada kritik baru buat kamu."
Amir tersenyum membacanya, bukan karena rindu, tapi karena menurutnya itu lucu. Siapa yang masih butuh kritik?
Suatu sore, Rian menghampirinya di sebuah acara peluncuran produk. Anak SMK itu sudah punya kamera sendiri sekarang, hasil menabung setahun. Ia menunjukkan beberapa foto di layar kecilnya dengan mata berbinar.
"Mas, ini cahayanya kenapa ya, kok datar? Mas pasti tahu."
Amir memandang layar itu sedetik, lalu memandang jam tangannya.
"Cari sendiri di Google. Jangan manja."
Rian tersenvum canggung, mengangguk, lalu mundur seperti orang yang salah masuk kamar. Amir sudah berpaling dan tidak melihat bagaimana anak itu menyimpan kameranya kembali ke tas, pelan-pelan, seperti meletakkan sesuatu yang baru saja retak.
Rahasia yang Dijual
Sebulan kemudian, Amir meluncurkan kelas daring "Rahasia Bidikan Jenius": Rp2.499.000, bonus e-book, bonus sertifikat, bonus grup Telegram yang ia janjikan akan "aktif dipantau". Poster promosinya memajang wajahnya dari sudut terbaik, di bawah tulisan:
Ilmu itu mahal. Investasikan pada dirimu.
Di sesi pembuka, ia berpidato dua puluh menit tentang pentingnya menghargai ilmu. Tak ada peserta yang tampak menyadari bahwa orang yang sama, sebulan sebelumnya, menolak menjelaskan satu soal pencahayaan kepada seorang anak SMK secara cuma-cuma. Atau mungkin mereka menyadarinya, hanya saja tidak ada kolom komentar untuk itu.
Pesertanya empat belas orang. Tiga meminta refund karena materi minggu pertama ternyata berisi cara membeli lensa yang sama dengan miliknya. Amir membalas permintaan itu dengan kalimat berformat rapi:
Mohon maaf, kelas ini bukan untuk semua orang.
Kecepatan cahaya panggung memang sering kali membutakan. Amir memenangi dunia, tetapi tanpa sadar mulai kehilangan hal paling berharga di balik bingkai kameranya: empati dan orang-orang yang membentuknya.
Akankah pencapaian teknik dan harga lensa mampu menggantikan jiwa yang perlahan mengering? Bagaimanakah akhir dari perjalanan seorang fotografer yang terbuang oleh egonya sendiri?
Baca Selanjutnya: Manusia yang Hilang (Bagian 2) — Ketika Bingkai Tak Lagi Memiliki Hati









