Kopi, Martabak, dan Keadilan yang Terlambat (Sambungan dari bagian kedua)
Rencana nekat mengamankan file master RAW dari meja kerja Pak Hendra ternyata bekerja lebih cepat dari kalkulasi kami yang paling optimis sekalipun. Hanya butuh waktu kurang dari dua jam bagi seorang pengusaha kelas atas untuk bertransformasi dari sosok dominan yang hobi mengunci anggaran, menjadi seorang pria paruh baya yang kehilangan kompas ketenangannya akibat panik pameran besok pagi terancam bubar. Saat kami baru saja menghembuskan asap rokok pertama di markas kedai kopi kami, bayangan dasi miring di ujung jalan memberi tahu kami satu hal: sang tikus gudang akhirnya terpaksa keluar mencari umpannya sendiri.
Kami baru saja memesan kopi di kedai langganan ketika Pak Hendra muncul. Cepatnya ia datang menunjukkan bahwa kepanikan bisa mengalahkan kemacetan Jakarta. Ia yang tadi klimis dan tegas kini terlihat seperti orang yang baru saja menyadari bahwa ia menaruh nyawanya di tempat yang salah — dasinya miring, rambutnya sedikit acak-acakan, dan wajahnya pucat dengan warna yang hanya bisa dihasilkan oleh kombinasi amarah, rasa takut, dan perhitungan kerugian yang dilakukan di dalam kepala secara bersamaan.
Ia berdiri di depan meja kami. Kami menatapnya dengan ekspresi orang-orang yang sangat menikmati kopi mereka.
"Kalian—" ia mulai dengan suara yang mencoba tegas tapi tidak cukup bahan bakar untuk sampai ke sana.
"Silakan duduk, Pak Hendra," kata Seno dengan ramah yang terasa seperti pisau yang sangat tajam. "Kopi kami sedang enak. Sayang kalau momen ini diisi dengan berdiri."
"Kalian mengambil sesuatu dari kantor saya."
"Menuduh tanpa bukti yang sah adalah pencemaran nama baik, Pak," kata Dani, sambil mengaduk kopinya dengan penuh konsentrasi seperti sedang melakukan eksperimen kimia. "Siapa saksi yang melihat kami mengambil sesuatu dari meja kerja Bapak yang terhormat?"
Ini adalah pertanyaan retoris yang bekerja dengan sangat baik karena jawabannya adalah: tidak ada. Tidak ada kamera CCTV di sudut yang tepat. Tidak ada saksi yang bisa dikonfirmasi. Dan Pak Hendra, sebagai pengusaha yang terbiasa dengan celah-celah hukum, tahu persis apa artinya ketika tidak ada bukti.
Ia duduk. Bukan karena dipersilakan, tapi karena kakinya rupanya tidak lagi bisa menopang berat badan plus kepanikan sekaligus.
Catatan DiplomasiPak Hendra memesan martabak untuk kami semua — bukan kopi saset. Martabak. Dengan telur. Ini adalah cara korporat untuk mengatakan: Saya serius ingin berdamai, dan saya tahu harga negosiasi kali ini melibatkan kolesterol tingkat tinggi. Kami menghargai keseriusan itu dengan cara terbaik: kami makan martabaknya sambil membiarkannya berbicara.
Pak Hendra berbicara panjang tentang betapa ia sebenarnya sangat menghargai seni. Tentang betapa ia sebenarnya berjiwa seniman — sebuah klaim yang tidak pernah bisa diverifikasi tapi juga tidak bisa dibantah. Tentang betapa sistem akuntansi kantornya yang kaku membuatnya tidak leluasa. Tentang betapa ia sebenarnya adalah korban dari birokrasi internal yang ia ciptakan sendiri.
Kami mendengarkan. Martabaknya enak.
"Saya sangat memerlukan file-file master dan berkas itu," katanya akhirnya, dengan nada seseorang yang baru saja menelan semua keangkuhannya dalam satu tegukan. "Kalau tidak ada, pameran besok bisa batal, dan perusahaan bisa rugi besar. Kasihan kan para pencinta seni kalau sampai pameran itu tidak jadi?"
Aku nyaris tersedak kopi. Para pencinta seni. Orang yang dua minggu lalu bilang foto Bedul "terlalu manusiawi" kini berlindung di balik para pencinta seni.
"Kami tidak butuh uang haram," kata Seno dengan ketegasan seorang hakim yang juga pernah menjadi terdakwa. "Cukup bayar lunas honorarium kawan kami, Bedul, yang sudah menjadi haknya sejak bulan lalu. Ditambah sedikit... katakanlah biaya kompensasi atas stres emosional karena menghadapi birokrasi Bapak yang berbelit-belit. Bagaimana, sedia?"
Pak Hendra menatap kami satu per satu. Wajahnya melakukan perhitungan yang sangat rumit dalam waktu yang sangat singkat: kerugian pameran batal versus jumlah yang harus dibayar, reputasi versus pragmatisme, ego versus realita.
Realita menang. Seperti biasanya.
"Sedia... sedia betul. Sangat sedia," katanya dengan tawa getir yang terdengar seperti seseorang yang baru saja menemukan bahwa asuransinya tidak menanggung jenis kerugian ini.
Di atas meja kedai kopi itu, dengan saksi martabak telur dan enam cangkir kopi, dibuat surat tanda terima darurat yang ditulis tangan di balik struk belanja. Pak Hendra mengeluarkan dompetnya — dompet kulit yang mahal, yang menjadi ironi tersendiri ketika dibandingkan dengan isi rekening Bedul — dan menghitung lembaran-lembaran uang dengan jari yang sedikit gemetar.
Bedul menerimanya. Menghitungnya. Menghitung lagi. Lalu mengangguk.
File dan dokumen dikembalikan. Pak Hendra pergi dengan memeluk tas berkasnya seperti orang yang baru saja lolos dari sesuatu yang tidak bisa ia ceritakan kepada siapapun — terutama tidak kepada bagian keuangannya.
Penutup: Kopi, Kamera, dan Ulang Tahun Dewi
Esoknya, Bedul membeli kado untuk Dewi. Ia tidak cerita apa yang ia beli, dan kami tidak bertanya — ada batas yang tegas antara solidaritas dan keingintahuan yang dungu alias tak sopan, dan kami cukup dewasa untuk tahu di mana batasnya meskipun dalam banyak hal lain kami tidak terlalu dewasa.
Yang aku tahu, dari cerita yang tersebar kemudian, adalah bahwa Dewi sangat senang. Bukan terutama karena hadiah itu sendiri — Dewi memang bukan tipe yang mengukur cinta dengan harga — tapi karena ia tahu, dengan intuisi yang dimiliki orang-orang yang benar-benar mencintai seseorang, bahwa hadiah itu datang dengan harga yang jauh lebih mahal dari angka yang tertera.
Dan kami? Kami kembali ke kedai kopi. Kopi dipesan, rokok dinyalakan, kamera diletakkan di atas meja dengan posisi yang selalu sama — lensa menghadap ke arah jalan, siap menangkap apapun yang lewat. Percakapan kembali mengalir ke hal-hal biasa: pameran yang tidak jadi, proyek yang tidak terbayar, foto-foto yang terlalu bagus untuk laku, dan momen-momen kecil yang hanya bisa dilihat oleh orang yang terbiasa melihat.
Di luar, kota berjalan dengan cepatnya yang biasa — tidak tahu dan tidak peduli bahwa enam orang seniman baru saja menyelesaikan sebuah proyek yang tidak akan pernah masuk portofolio siapapun, tapi yang akan diceritakan berulang kali di kedai kopi selama bertahun-tahun dengan detail yang semakin dramatis setiap kali diceritakan.
Begitulah cara dunia bekerja, menurutku. Keadilan jarang datang dalam bentuk yang diatur oleh sistem. Ia lebih sering datang dalam bentuk enam orang dengan satu tas kamera usang, dua batang rokok kretek, dan sedikit kreativitas yang tidak diajarkan di sekolah mana pun.
"Kami ini seniman. Punya harga diri. Dan cukup akal untuk tahu bahwa harga diri, kadang, perlu sedikit bantuan logistik."
Bedul menyulut rokoknya, menghembuskan asap panjang ke arah langit sore yang mulai oranye, lalu mengangkat kameranya — bukan untuk memotret apapun yang khusus, tapi karena itulah yang ia lakukan ketika ia merasa hidupnya, untuk sesaat, berada tepat di tempat yang semestinya.
Aku memotretnya. Foto itu tidak bagus secara teknis — pencahayaannya agak keras, komposisinya terburu-buru. Tapi ada sesuatu di sana yang tidak bisa diperbaiki oleh Lightroom manapun, dan justru karena itulah foto itu menjadi yang paling jujur yang kuambil sepanjang bulan itu.







.jpeg)
