Sabtu, 21 Februari 2026

Semua Orang Punya Kamera, Tapi Tidak Semua Orang Fotografer: Mencari Arti Sejati Fotografi di Era AI (Bagian Pertama)



Beraban, Kediri, Tabanan, Sabtu, 21 Februari 2026

Semua Orang Punya Kamera, Tapi Apa Sobat Punya Alasan Memotret?


Selamat pagi, siang, sore dan malam wahai para pemuja aesthetic dan pemburu golden hour yang rela berdiri 45 menit demi cahaya 3 menit.

Mari kita jujur sebentar. Di zaman sekarang, memegang kamera—entah mirrorless dua digit yang cicilannya lebih panjang dari hubungan terakhir Sobat, atau sekadar smartphone yang kameranya lebih canggih dari laptop kantor—sudah seperti hak asasi manusia. Masuk kafe estetik, cekrek. Lihat genangan air (yang sebenarnya bekas oli), cekrek, kasih filter moody. Kita semua merasa seperti Henri Cartier-Bresson versi tongkrongan.

Tapi pernahkah Sobat bangun pagi, melihat tas kamera yang menggantung di sudut kamar, lalu bertanya dalam hati:
“Sebenarnya gue ini motret buat apa, sih?”
“Apa bedanya gue sama bapak-bapak yang motoin anaknya makan es krim di Dufan?”

Kalau Sobat pernah sampai di titik krisis identitas visual seperti ini, selamat. Itu tanda Sobat masih berpikir.

Seorang kreator visual bernama Teo Crawford pernah mengulas tentang fenomena keresahan ini. Ia mengakui bahwa di tengah banjir AI, filter instan, dan kamera yang tajamnya bisa melebihi silet, menjadi “fotografer” tidak lagi sesederhana punya kamera. Sekarang semua orang punya kamera. Bahkan AI bisa bikin foto yang technically flawless tanpa keringat, tanpa salah fokus, tanpa lupa set white balance.

Jadi kalau sekadar menghasilkan gambar “bagus”, AI justru paling bisa. Kalau sekadar punya kamera, hampir semua orang juga bisa. Lalu, apa yang tersisa buat Sobat?


1. Krisis Sejuta Umat: “Hari Ini Motret Apa, Ya?”


Sobat pasti pernah mengalami ini.

Sudah mandi. Sudah wangi. Tas kamera siap. Baterai full. Memory card kosong. Datang ke lokasi—dan… kosong.

Semua terlihat biasa.
“Ah, pohon doang.”
“Lampunya nggak dramatis.”
“Langitnya flat.”

Akhirnya, Sobat malah duduk, scroll TikTok atau Instagram, dan melihat orang lain motret hal yang juga sebenarnya biasa saja, tapi entah kenapa kelihatan keren pakai level maksimal.

Masalahnya sering bukan di tempatnya. Bukan juga di gear-nya. Masalahnya ada di kepala kita yang terlalu sibuk mikirin teknis: ISO berapa, lensanya tajam nggak di pojok, dynamic range cukup nggak.

Kita lupa satu hal: kenapa kita membawa benda seberat itu di leher.

Dulu, menjadi fotografer itu simpel. Punya kamera saja sudah dianggap level serius. Sekarang? Kamera ada di setiap kantong baju atau celana. Bahkan anak SD bisa bikin foto yang exposure-nya lebih rapi daripada sebagian foto Sobat waktu pertama belajar jeprat dan jepret.

Di era ini, identitas fotografer tidak lagi ditentukan oleh alat. Tapi oleh kesadaran.


2. Fotografi Itu Bukan Soal Dunia, Tapi Soal Waktu


Teo Crawford mengajak kita berpikir lebih dalam. Fotografi bukan sekadar merekam dunia. Kalau cuma soal meniru realitas, pelukis realis sudah melakukannya ratusan tahun sebelum sensor CMOS lahir.

Perbedaannya ada pada satu hal besar: waktu.

Fotografi adalah satu-satunya medium yang benar-benar menangkap potongan waktu. Saat Sobat menekan shutter, Sobat sedang melakukan operasi kecil pada realitas. Sobat memotong satu detik dari arus kehidupan, membekukannya, lalu menyimpannya.

Kedengarannya dramatis? Memang.

Tapi itu faktanya. Sobat tidak pernah bisa memiliki masa kini. Begitu Sobat sadar, momen itu sudah lewat. Tapi lewat foto, Sobat bisa memiliki masa lalu.

Dan di situlah letak kekuatan fotografi yang sering kita anggap remeh.


3. Kekuatan Foto yang Hari Ini Terlihat “Biasa”


Kita sering terlalu obsesif bikin foto yang mind-blowing sekarang juga. Harus simetris. Harus cinematic. Harus viral. Bombastis dan hebat serta memukau bahkan jika menggunakan skala surga.

Padahal, banyak foto besar dalam sejarah terlihat biasa saat diambil.

Teo bercerita tentang foto hitam putih lama dari tahun 1970-an di sebuah stasiun kereta kecil di Jepang. Secara teknis mungkin biasa saja. Tapi hari ini, foto itu menjadi dokumen berharga karena stasiunnya sudah berubah total.

Di sinilah satirnya: kita sering meremehkan foto warung kopi pinggir jalan, foto gang sempit, foto wajah lelah teman saat menunggu pesanan. Kita bilang, “Ah, nggak penting.”

Coba tunggu 20 tahun.

Foto itu mungkin akan menjadi saksi perubahan zaman. Artefak kecil dari masa yang sudah hilang.

Sobat mungkin tidak sadar, tapi setiap kali memotret hal yang tampak biasa, Sobat sedang membangun kenangan untuk dilihat dimasa depan.

Dan ini yang sering kita lupakan karena terlalu sibuk mengejar like.

Tapi pertanyaan besarnya belum selesai. Kalau semua orang bisa memotret, kalau semua orang bisa menyimpan potongan waktu, lalu apa yang benar-benar membedakan fotografer dengan orang yang sekadar menekan tombol shutter? Apakah cukup hanya dengan “niat” dan “perasaan”? Atau ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar momen?

Di bagian kedua, kita akan membedah garis tipis antara fotografer sejati dan sekadar tukang dokumentasi—dan kenapa kesadaran jauh lebih penting daripada sekadar kamera mahal.

Kamis, 19 Februari 2026

Negative Space Brutal: Cara Bikin Foto Terlihat Sepi Tapi Bikin Pemirsa Serasa Digampar



Beraban, Tabanan, Bali, Kamis, 19 Februari 2026

Banyak fotografer pemula (dan bahkan yang senior pun masih sering terjebak) seperti merasa berdosa kalau subjek fotonya tak berada di tengah atau meleset dari titik potong rule of thirds. Padahal, dunia ini nggak selalu seimbang, Sobat. Kadang, hidup itu miring, kadang terbalik, berat sebelah, dan penuh dengan ruang kosong. Itulah yang coba kita tangkap lewat teknik unbalanced.

Tujuannya cuma satu: Menciptakan Sensasi Ketegangan Visual. Foto yang seimbang itu memang menenangkan, tapi foto yang tidak seimbang itu “menghasut” alias provokatif. Foto jenis ini bakal memaksa mata penonton untuk cari tahu, "Ada apa sih di sana?"

1. Jurus "Pojok Merana" (Extreme Edge Placement)

Sobat jangan takut menaruh subjek di ujung tanduk—eh, maksudnya di ujung frame. Coba letakkan subjek utama di pojok paling bawah atau paling samping, lalu biarkan sisa bingkainya kosong melompong.

Dalam bahasa teknis, ini memanfaatkan negative space secara brutal. Secara psikologis, ini memberikan kesan isolasi atau kebebasan yang absolut. Bayangkan Sobat memotret satu orang di tengah padang pasir, tapi orangnya ditaruh di pojok kanan bawah sekecil semut. Efeknya? Penonton bakal ngerasa betapa luasnya gurun itu dan betapa "kecilnya" manusia. Dramatis banget, kan?

2. Main "Berat-Beratan" Visual

Visual itu punya bobot, Sobat. Nggak perlu pakai timbangan dapur, cukup pakai rasa. Warna merah menyala itu "lebih berat" daripada warna abu-abu pucat. Objek yang detailnya rumit itu "lebih berat" daripada area yang blur (bokeh).

Nah, tipsnya: tumpuk semua elemen berat itu di satu sisi. Biarkan sisi lainnya kosong atau polos. Ketidakseimbangan ini bakal bikin foto Sobat terasa punya gravitasi sendiri. Mata penonton seolah-olah ditarik paksa ke satu sisi. Ini teknik jitu kalau Sobat mau bikin foto street photography yang terasa sibuk dan penuh energi di satu sisi, tapi tetap terlihat estetik.

3. Memanfaatkan Garis yang "Menyesatkan"

Gunakan garis-garis alami di sekitar Sobat (jalan raya, kabel listrik, atau bayangan gedung) untuk memandu mata ke arah yang nggak terduga. Kalau biasanya garis menuntun kita ke tengah, kali ini arahkan garis itu ke luar frame atau ke area yang kosong. Ini bakal bikin audiens Sobat mikir, "Eh, ini fotonya belum selesai ya?" Tapi di situlah letak seninya. Sobat sukses bikin mereka penasaran!

4. Melawan Hukum Simetri dengan "Point of Interest" Tunggal

Kalau Sobat lagi di tempat yang arsitekturnya super simetris seperti masjid atau gedung tua, coba rusak kesimetrisan itu. Masukkan satu elemen yang nggak sinkron di salah satu sisi saja. Misalnya, di koridor panjang yang simetris, taruh satu kursi tua di sisi kiri, sementara sisi kanannya kosong. Kesimetrisan yang "cacat" ini justru bakal jadi pusat perhatian utama karena dia adalah satu-satunya pemberontak di sana.
Kenapa Sobat Harus Coba Teknik Ini?

Karena foto yang seimbang itu seringkali jadi "terlalu rapi" dan akhirnya membosankan. Dengan teknik unbalanced, Sobat sedang bercerita tentang ketidakpastian, tentang ruang untuk bernapas, dan tentang keberanian tampil beda.

Tapi ingat ya, Sobat, unbalanced itu beda sama "asal jepret". Foto yang tidak seimbang tetap butuh maksud yang jelas. Kalau Sobat motret asal miring tapi nggak ada subjek yang kuat, ya itu namanya fotonya gagal, bukan seni. Hehehe.

Kuncinya adalah Intensi. Sobat harus sadar sepenuhnya kenapa Sobat memilih untuk nggak seimbang. Pastikan subjek Sobat punya karakter yang cukup kuat untuk menahan beban visual sendirian di pojokan frame.

Gimana, Sobat? Tertarik buat bikin galeri Instagram-mu terlihat lebih "berantakan" tapi berkelas?

(Sebuah catatan ringan, ditulis di malam bulan Desember, dengan tambahan asap rokok dan kopi hitam)

Jumat, 13 Februari 2026

Berhentilah Menjadi “Emas dalam Lumpur”: Dunia Tidak Punya Waktu untuk Menggali Potensi Sobat (Bagian Kedua)



Beraban, Tabanan, Bali, Jum'at, 13 Februari 2026

(Artikel ini adalah sambungan dari artikel sebelumnya yang mengusung judul: Berhentilah Menjadi “Emas dalam Lumpur”: Dunia Tidak Punya Waktu untuk Menggali Potensi Sobat (Bagian Pertama))

Sekali Terlihat Gagal, Sobat Tidak Lagi Layak Digolongkan Sebagai Manusia—Hanya Catatan Kaki


Jika Halo Effect adalah karpet merah bagi mereka yang tampil meyakinkan, maka Horn Effect adalah pintu jebakan yang terbuka tepat di bawah kaki orang yang terpeleset pada lima menit pertama.

Satu saja kesalahan kecil yang Sobat lakukan, seperti datang terlambat lima menit, atau salah ucap satu istilah teknis atau typo di CV yang bahkan auto correct pun tidak sempat menyelamatkan. Presentasi yang slide-nya loncat seperti sinyal Wi-Fi di kos-kosan mahasiswa.

Dan boom.

Bukan cuma performa Sobat yang bakal kena ponten jeblok. Karakter Sobat juga kecipratan ikut divonis. “Tidak disiplin.” “Tidak detail.” “Kurang profesional.” Seolah satu "kepleset" kecil adalah gambaran dari seluruh hidup Sobat.

Begitu label negatif menempel, bias konfirmasi bekerja seperti algoritma media sosial yang sudah memutuskan Sobat ini siapa. Orang tidak lagi mencari kebenaran. Mereka mencari pembenaran. Setiap kesalahan kecil menjadi bukti tambahan. Setiap keberhasilan dianggap pengecualian. Setiap pencapaian disebut kebetulan.

Lucunya, banyak orang gagal bukan karena tidak kompeten.

Mereka gagal karena kalah start di lima menit pertama—dan terlalu percaya diri untuk menyadarinya.

Dunia jarang memberi kesempatan kedua sebelum memberi cap permanen.

Meritokrasi: Dongeng Pengantar Tidur Orang Dewasa

Di titik ini, para idealis mulai gelisah.

“Kualitas pasti menang pada akhirnya.”

Kalimat itu terdengar indah. Hangat. Menghibur. Cocok dijadikan caption LinkedIn dengan foto formal hitam putih dan kutipan motivasi.

Sayangnya, realitas sosial tidak seobjektif soal pilihan ganda.

Kebenaran yang dikemas buruk dianggap gangguan.

Kebodohan yang dikemas rapi dianggap wawasan.

Kita hidup di era di mana presentasi lebih dulu dipercaya daripada substansi. Orang tidak membeli produk terbaik. Mereka membeli produk yang terlihat paling meyakinkan. Bahkan kopi biasa pun bisa terasa “premium” kalau disajikan dengan nama Italia dan gelas transparan estetik.

Meritokrasi memang ada. Tapi ia tidak berdiri sendirian. Ia berjalan beriringan dengan persepsi, citra, dan kemasan.

Sejarah penuh dengan orang-orang cerdas yang kalah bukan karena mereka bodoh, melainkan karena mereka terlalu yakin bahwa kebenaran akan berjalan sendiri tanpa perlu dipromosikan.

Itu bukan idealisme.

Itu kesombongan intelektual yang dibungkus keengganan untuk beradaptasi.

Berhenti Jadi Emas dalam Lumpur

Banyak orang senang menyebut dirinya “emas yang belum ditemukan.” Masalahnya, mereka lupa satu hal penting: tidak ada orang waras yang rela bersusahpayah menyelam ke lumpur hanya untuk memastikan itu emas atau cuma batu kali yang berkilau karena basah.

Dunia tidak berutang apa pun pada potensi terpendam Sobat.

Potensi yang tidak terlihat akan diperlakukan seperti potensi yang tidak ada.

Di dunia yang penuh distraksi, konten sampah, dan atensi yang lebih pendek dari durasi iklan YouTube, sesuatu yang tidak tampil meyakinkan akan dilewati begitu saja. Bukan karena tidak berharga, tetapi karena tidak cukup terlihat.

Emas yang ingin dihargai harus bersih, terlihat, dan dipajang di etalase. Artinya apa?

  • Cara berpakaian bukan sekadar kain.
  • Cara bicara bukan sekadar suara.
  • Cara membawa diri bukan sekadar gaya.

Semua itu adalah bahasa sosial. Dan bahasa sosial menentukan apakah orang memberi Sobat kesempatan kedua atau langsung menutup buku di halaman pertama.

Ini bukan tentang menjadi palsu. Ini tentang memahami bahwa persepsi adalah pintu masuk menuju kesempatan. Substansi tetap penting—tapi ia baru diperiksa setelah pintunya dibuka.

Kalau Sobat menolak memperbaiki kemasan dengan alasan “yang penting isi,” itu hak Sobat. Tapi jangan kaget kalau dunia memperlakukan Sobat seperti draft yang belum selesai—bukan karena isinya buruk, melainkan karena tampilannya membuat orang enggan membaca lebih jauh.

Di dunia nyata, kesan pertama bukan segalanya.

Tapi sering kali, ia menentukan apakah ada bab kedua.

Rabu, 11 Februari 2026

Berhentilah Menjadi “Emas dalam Lumpur”: Dunia Tidak Punya Waktu untuk Menggali Potensi Sobat (Bagian Pertama)



Beraban, Tabanan, Bali, Rabu, 11 Februari 2026

Mengapa Orang Dangkal Terlihat Menang, dan Sobat Terlihat Seperti Masalah


Mari kita mulai dengan kebohongan favorit kelas menengah berpendidikan: “Yang penting kualitas, bukan penampilan.”

Kalimat ini terdengar bijak, bermoral, dan cocok ditempel di bio LinkedIn—terutama oleh orang yang kariernya mandek tapi harga dirinya masih utuh.

Banyak orang dengan bangga menyebut diri mereka low profile, seolah itu pilihan filosofis, bukan strategi bertahan hidup yang gagal. Mereka percaya suatu hari nanti dunia akan berhenti sejenak, menyingkirkan semua distraksi, lalu berkata, “Tunggu, orang ini kelihatannya biasa saja, tapi ternyata isinya luar biasa!”

Maaf. Dunia tidak bekerja seperti itu. Dunia tidak punya cukup alasan untuk bisa menerima idealisme Sobat.

Kita dibesarkan dengan kalimat bijak (yang ternyata menjebak) “don’t judge a book by its cover”. Sayangnya, kita tidak hidup di semesta yang teratur seperti di perpustakaan, melainkan di semesta yang carut-marut seperti pasar malam yang ribut. Di sana, buku dengan sampul kusam—meski isinya sangat benar dan bijak—akan diinjak, dilangkahi, lalu dijadikan alas kaki. Bukan karena isinya buruk, tapi karena sebagian manusia penghuninya hampir tak punya waktu yang cukup, bahkan untuk membuka halaman pertamanya.

Masalahnya bukan dunia terlalu dangkal. Masalahnya adalah Sobat terlalu romantis dalam memandang cara berfikir manusia.

Otak manusia tidak diciptakan untuk adil. otak diciptakan untuk berjuang dan bertahan hidup. Dalam hitungan detik, ia harus memutuskan: aman atau berbahaya, layak atau tidak, penting atau bisa diabaikan. Maka otak akan menggunakan jalan pintas kognitif—heuristik—yang cepat, murah, dan sering keliru. Dari sinilah lahir ilusi terbesar kehidupan sosial modern: Halo Effect.

Halo Effect: Ketika Satu Kilau Menghapus Seribu Dosa

Halo Effect adalah kondisi ketika satu kualitas yang terlihat—wajah menarik, pakaian rapi, suara percaya diri—membuat otak orang lain menyerah total pada penilaian kritis. Sekali Sobat terlihat “beres”, Sobat otomatis diasumsikan pintar, kompeten, dewasa, dan pantas didengarkan.

Sebaliknya, jika Sobat terlihat berantakan, otak sosial akan langsung mengambil kesimpulan ekstrem: Sobat merepotkan, tidak bisa diandalkan, dan berpotensi menjadi masalah di masa depan. Bakat, pengalaman, dan niat baik Sobat? Itu semua akan dianggap tidak relevan. Belum sempat dipertimbangkan.

Mari jujur tanpa pura-pura bermoral.
  • Seorang CEO sukses yang kasar disebut tegas.
  • Seorang karyawan rendahan yang kasar disebut kurang ajar.

Kata-katanya sama. Dampaknya berbeda. Yang membedakan bukan etika, tapi posisi.

Kita tidak menghormati orang karena kebenaran yang mereka bawa. Kita menghormati mereka karena kemasan superioritas yang mereka tampilkan. Ini bukan keadilan—ini psikologi dasar. Dan tidak, mengeluh tentang ini tidak akan mengubah apa pun selain membuat Sobat terdengar seperti korban yang rajin membaca filsafat tapi malas membaca situasi.

Estetika Bukan Dangkal—Estetika itu Efisien

Banyak orang merasa dunia tidak adil karena kerja keras mereka kalah oleh rekan yang “cuma modal tampang dan jago ngomong”. Mereka menyebutnya pencitraan, manipulasi, atau kepalsuan. Padahal yang mereka sebut palsu itu adalah bahasa resmi otak manusia.

Penampilan adalah proxy tercepat untuk kompetensi. Otak yang kelelahan oleh banjir informasi tidak punya energi untuk menggali kedalaman fikiran dan jiwa Sobat. Ia memilih indikator visual yang cepat: simetri, kebersihan, artikulasi, kepercayaan diri. 

Apakah model pendekatan penilaian ini bisa salah? Sering. Tapi efisien.

Kedalaman butuh waktu. Dan waktu adalah sesuatu yang amat sangat mahal yang tidak akan diberikan gratis oleh orang yang bahkan belum yakin kalau Sobat memang punya nilai untuk layak diperhatikan.

Dan di sinilah tragedi mulai terasa:
Orang yang merasa “punya isi” sering kali paling malas membungkus dirinya. Mereka merasa kemasan adalah penghinaan terhadap kualitas. Mereka ingin dihargai tanpa harus tampil. Padahal dalam dunia nyata, yang tidak terlihat akan dianggap tidak ada.

Namun, semua ini baru permukaan.

Masalah sebenarnya bukan hanya gagal bersinar—melainkan satu kesalahan kecil yang bisa mengubur diri Sobat selamanya.

(Bersambung ke Bagian Kedua)

Selasa, 10 Februari 2026

Fotografi Itu Seni atau Cuma Jepret Doang? Debat Abadi dari Zaman Kolonial Sampai Era AI (Bagian Ketiga)


Berlayar-Fotografi Minimalis
Berlayar
(Fotografi Minimalis)

Beraban, Tabanan, Bali, Selasa, 10 Februari 2026

BAGIAN 3: Era AI dan Kesimpulan: Jadi, Fotografi Itu Seni Nggak?


Kalau di Bagian Kedua kita sudah melihat bagaimana foto bisa naik derajat jadi “seni” berkat estetika, dampak, harga selangit, atau sekadar nama besar di baliknya, maka di Bagian Ketiga kita masuk ke wilayah yang jauh lebih mengganggu: bagaimana kalau semua itu tidak lagi butuh fotografer? Di era AI, gambar bisa lahir tanpa kamera, tanpa momen, tanpa tangan manusia—cukup dari prompt dan algoritma. Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi “foto ini indah atau mahal?”, melainkan: kalau yang menciptakan bukan manusia, masih pantaskah kita menyebutnya fotografi—atau bahkan seni?

1. Manipulasi: Dari Kamar Gelap ke Photoshop

Dari dulu, fotografer itu sebenarnya tukang edit yang hakiki. Dari zaman cuci cetak pakai bahan kimia, sampai zaman ceklak-ceklinya Photoshop. Alfred Stieglitz, salah satu suhu besar bidang fotografi, sebenarnya nggak suka foto yang diedit terlalu banyak karena dianggap "palsu".

Tapi sekarang, dengan AI, kita bisa bikin gambar cuma pakai ketikan teks. Apakah ini masih fotografi? Gambarnya mungkin "seni", tapi apakah itu "foto"? Ini bisa dianalogikan seperti kita menyusun kolase atau digital art. Keren sih, tapi definisi "fotografi" jadi makin abu-abu kayak rambut kakek saya.

2. Si Paling "Gue Juga Bisa!"

Ada satu argumen yang sering muncul: "Ah, foto kayak gitu doang mah gue juga bisa!"

Jawabannya simpel tapi nyelekit: "Iya, lo bisa, tapi masalahnya lo nggak ngelakuin itu dan lo nggak terkenal!". Itulah kenapa nama besar fotografer sangat berpengaruh. Seni itu juga soal reputasi, bukan cuma soal teknis jepret.

3. Kesimpulan: Jangan Jadi Snob!

Seorang fotografer yang benar-benar fotografer pernah kasih nasehat yang bagus, kita harus jadi orang yang terbuka. Fotografi itu medium yang paling sosial dan paling bisa diakses siapa saja. Menolak fotografi sebagai seni itu sama saja menghina jutaan orang yang mengekspresikan diri lewat lensa HP setiap harinya.

Meskipun kadang kita bosan lihat pameran foto (karena setiap hari kita sudah "pameran" di feed medsos), fotografi tetap punya tempat istimewa. Tugas kita sebagai "fotografer dadakan" atau "fotografer beneran" adalah menciptakan karya yang bisa tetap layak untuk disebut sebagai karya di antara lautan 14 triliun foto tadi.

Jadi, buat Sobat yang suka motret makanan sebelum makan: Lanjutkan! Siapa tahu 100 tahun lagi foto nasi goreng yang Sobat jepret itu masuk galeri seni karena dianggap sebagai "Rekaman Budaya Kuliner Abad 21".

Oh ya, masih ada satu hal lagi. Kalau selama ini Sobat rajin menghapus foto hanya karena merasa hasilnya jelek, kebiasaan itu sebaiknya segera direvisi. Mulai sekarang, jangan pernah hapus foto yang Sobat anggap gagal. Simpan baik-baik, backup kalau perlu di tiga hard disk, lalu wariskan ke cucu atau cicit. Sebab, siapa tahu 100 tahun lagi foto itu dipajang di galeri dengan bingkai emas dan judul sok filsafati. Kurator akan berpidato panjang soal “kegagalan estetika sebagai kritik zaman”, sementara pengunjung pura-pura paham sambil mengangguk pelan. Foto yang dulu memalukan kini berubah jadi artefak sejarah. Nilainya bukan naik karena indah, tapi karena konsisten membuktikan satu hal: dulu jelek, sekarang jelek, dan di masa depan… tetap lebih jelek lagi.

Dan ingat, sejelek apa pun foto Sobat jika diukur dari parameter apa pun, ia tetaplah karya seni—lahir dari intuisi, rasa, dan jiwa kreatif manusia. Bukan hasil rekayasa mesin dingin tanpa emosi, tanpa ragu, dan tanpa cerita.

Gimana menurut Sobat-Sobat sekalian? Apakah kamera di tangan Sobat itu alat seni atau cuma alat pamer? Tulis di kolom komentar ya!

Demikianlah artikel tiga bagian ini saya tulis, semoga bisa sedikit menghibur hati Sobat dan kasih banyak senang di hati.