Minggu, 27 September 2026

Potret yang Tak Pernah Dicetak (Coretan Bagian Kedua)


Beraban, Tabanan, bali, Sabtu, 26 September 2023

(sambungan dari Bagian Pertama)

Topeng yang Kupakai untuk Melepaskannya


Sejak sore itu, sesuatu yang tak direncanakan mulai terbentuk. Mei, dengan caranya yang lugas, mulai "memaksa" saya untuk terus datang setiap akhir pekan. Kadang kami hanya duduk di teras. Ia bercerita tentang buku, saya bercerita tentang kamera. Kadang ia menunjukkan hasil jepretannya—sebuah foto kucing di atas pagar, atau siluet pedagang kaki lima di tengah kepulan asap gerobaknya.

Sesekali, di tengah obrolan yang ringan, Mei tiba-tiba diam lebih lama dari biasanya, seperti menahan sesuatu yang ingin dikatakan tapi urung. Suatu kali saya bertanya kenapa, dan ia hanya menjawab, "Nggak apa-apa, cuma mikir. Kadang saya takut hal-hal sederhana kayak gini nggak bisa bertahan lama."

Saat itu saya menertawakannya, mengira ia sekadar bercanda atau sedang melankolis. Saya tidak tahu bahwa kalimat itu, dari mulut Mei yang biasanya begitu tegas, adalah bentuk paling jujur dari ketakutan yang sudah lama ia simpan sendirian. Segalanya mengalir indah. Namun saya belum tahu saat itu, bahwa di balik pintu rumah itu, ada percakapan-percakapan lain yang sedang berlangsung tanpa sepengetahuan saya. Percakapan di ruang makan antara orang tua Mei, tentang siapa laki-laki yang belakangan ini begitu sering duduk di teras mereka.

Sampai pada suatu Minggu pagi, dua puluh lima tahun yang lalu. Sebaris pesan singkat dari Mei muncul di layar ponsel saya: "Ke Blok M Mal cari buku bekas, mau ikut?"

Entah kenapa ia selalu ringkas—tanpa basa-basi, persis seperti caranya menyodorkan buku di kasir dulu. Siang itu saya meluncur menjemputnya. Di atas jok motor butut itu, saya sengaja menahan selongsong gas, membiarkan roda berputar lebih lambat agar durasi perjalanan bisa sedikit lebih lama. Angin membawa bau aspal panas bercampur parfum ringannya. Ya, saya memang menaruh hati padanya.

Kami menyusuri lorong sempit berjejal buku bekas. Di sela-sela perburuan, saya menangkap kebiasaan kecilnya. Sesekali Mei mengeluarkan kamera saku, memotret satu kali secara acak—seorang penjaga toko, atau seberkas cahaya yang jatuh miring—lalu mengantonginya lagi. Tidak ada pose. Tidak ada pengulangan. Sekali potret, selesai.

Setelahnya, kami duduk di Taman "M". Sambil menyantap bekal tanpa sendok, rasa penasaran saya tumpah. Saya bertanya kenapa ia hanya memotret sesekali saja, seolah tak peduli hasilnya nanti seperti apa.

Sambil menatap keramaian taman, ia tersenyum tipis. "Potretlah lebih banyak, sekadar untuk bersenang-senang," ucapnya tenang. "Tidak semua foto harus punya tujuan khusus. Kadang, kita membuat proses kreatif jadi terlalu rumit. Padahal, proses memotret itu sendiri sudah lebih dari cukup."

Matanya menyiratkan kebebasan yang jujur. "Potretlah hal-hal yang membuatmu merasa hidup. Saat sesuatu memikat perhatianmu bahkan sebelum kamu tahu alasannya, ikuti saja. Tugas seorang seniman bukanlah untuk selalu tahu ke mana arahnya, melainkan untuk tetap terbuka menyambut panggilan tersebut."

Malamnya, sepulang dari sana, ia menahan saya sejenak di depan pagar rumah. "Minggu depan datang lagi ya. Kita tak usah jalan, di sini saja. Saya ingin cerita tentang buku yang akan saya baca malam ini."

Dari malam-malam di teras itulah kami merajut sebuah cerita. Saat itu saya sadar, saya sedang memotret sebuah mimpi, sambil diam-diam berharap semua itu akan menjelma menjadi kenyataan. Tapi kebahagiaan yang sederhana itu, ternyata, dibangun di atas tanah yang jauh lebih rumit daripada yang pernah saya bayangkan.

Fondasi retak itu, rupanya, sudah ada di sana sejak awal—hanya saya yang memilih untuk tidak melihatnya. Saya pribumi. Mei keturunan Tionghoa. Dan bukan hanya soal itu; keyakinan kami pun bersimpangan, melahirkan jurang yang tak bisa dijembatani hanya dengan niat baik dan cinta belaka. Saya sujud lima waktu sehari. Di rumahnya, ada altar kecil warisan leluhur yang tak bisa begitu saja ditanggalkan demi seorang pemuda miskin yang datang membawa buku pinjaman.

Kami sempat naif berpikir bahwa perasaan bisa mengalahkan segalanya. Tapi ada hal-hal yang tak bisa dikompromikan. Ada garis keturunan yang harus dijaga, dan tradisi yang tak bisa dilanggar hanya karena dua orang muda saling jatuh cinta di sebuah taman kota. Butuh waktu lama sebelum saya menyadari bahwa setiap kali saya pulang, ada percakapan sunyi di ruang makan keluarganya. Ibunya lambat laun menjadi lebih pendiam. Ayahnya mulai jarang muncul setiap kali saya bertamu.

Hingga suatu sore, tanpa sepengetahuan Mei, ayahnya memanggil saya ke ruang tamu. Ia tidak marah, dan justru ketenangannya itulah yang membuat permintaannya terasa jauh lebih berat.

"Saya tidak mempermasalahkan kamu sebagai orang," katanya berhati-hati. "Kamu baik. Mei bahagia, dan itu bukan hal kecil bagi saya. Tapi ada hal-hal yang lebih besar dari perasaan kalian. Ada leluhur yang harus dihormati, ada keyakinan yang harus dijaga turun-temurun. Saya tidak bisa membiarkan itu berhenti, hanya karena satu perasaan yang datang di usia muda."

Ia meminta saya mengakhiri hubungan itu. Dan beban terberatnya datang kemudian: ia meminta saya merahasiakan percakapan ini dari Mei.

"Biar dia membenci kamu saja," katanya lirih, terdengar nyaris seperti permintaan maaf. "Itu akan lebih mudah sembuh, daripada dia harus membenci kami."

Saya pulang malam itu dengan kepala yang hancur. Memikirkan bagaimana caranya seseorang dipaksa menghancurkan kebahagiaannya sendiri, demi menjaga keutuhan kebahagiaan orang lain. Saya bukan aktor yang baik, Sobat. Tapi malam-malam berikutnya, saya belajar menjadi bajingan.

Saya mulai datang terlambat. Membalas pesan Mei dengan dingin. Saat ia bertanya kenapa saya berubah, saya menjawab dengan kalimat-kalimat menusuk—mengatakan saya bosan, bahwa ini cuma pelarian, bahwa saya tidak serius. Setiap kalimat itu keluar seperti pisau yang saya asah sendiri malam sebelumnya, lalu saya hunuskan pelan-pelan ke arah dada saya sendiri, sambil berpura-pura yang terluka adalah dia.

Saya terus melakukannya. Lebih baik Mei membenci saya sebagai laki-laki brengsek, daripada ia harus menelan kenyataan bahwa rumah yang menjadi tempatnya pulanglah yang memintanya melepaskan saya. Mei berubah. Pesan panjang berisi kekecewaan perlahan berganti menjadi kebisuan berhari-hari. Saya tahu ia amat sangat membenci saya—dan anehnya, melihat kebencian itu, ada sebagian diri saya yang merasa lega, meski sisa jiwa saya lebur tak bersisa.

Malam itu datang. Mei yang meminta saya bertamu. Teras yang dulu menjadi saksi kehangatan kami, malam itu membeku seperti ruang sidang. Mei berdiri dengan wajah lelah dan mata memerah, seolah sudah kehabisan air mata.

"Kamu benar-benar sudah berubah," katanya. Sebuah kesimpulan mutlak. "Saya tidak mengerti kenapa. Tapi saya rasa saya tidak perlu mengerti lagi."

Saya hanya diam. Satu kalimat jujur saja bisa menghancurkan sandiwara ini, dan barangkali, menghancurkan keluarganya juga. Tidak ada tangisan meledak. Tidak ada janji klise. Hanya kehampaan yang menelan kami berdua. Di kejauhan, dari balik tirai jendela yang setengah terbuka, kedua orang tua Mei berdiri diam menyaksikan adegan itu. Raut wajah mereka datar, tapi saya tahu, harapan mereka baru saja terwujud.

Saya pamit. Mei tidak menjawab. Ia hanya memunggungi pintu, membiarkan saya berjalan sendirian menuju motor di kegelapan gang. Gang yang sama tempat saya dulu sengaja menahan gas agar waktu berjalan lebih lambat. Kali ini, saya memacunya secepat mungkin. Saya tak sanggup berlama-lama berada dalam jarak pandang dari sosok yang terpaksa saya hancurkan hatinya.

(Bersambung ke Coretan bagian Ketiga)

Sabtu, 26 September 2026

Potret yang Tak Pernah Dicetak (Coretan Bagian Pertama)



Beraban, Tabanan, bali, Sabtu, 26 September 2023

Buku yang Tinggal Satu


Sobat, kalau boleh jujur, kebiasaan saya dulu agak memalukan untuk diceritakan. Saya adalah pelanggan setia Toko Buku "G" di Blok M, tapi bukan sebagai pembeli. Saya datang, memilih satu buku yang menarik, lalu berdiri di lorong rak sambil membacanya perlahan-lahan, halaman demi halaman, seolah toko itu perpustakaan pribadi saya. Bukan karena saya tak menghargai buku. Justru sebaliknya—saya terlalu menghargainya untuk sekadar dilewatkan begitu saja. Hanya saja, dompet saya tak pernah cukup tebal untuk membawanya pulang.

Sore itu saya sedang berdiri di rak fotografi, memegang sebuah buku bersampul hitam tentang komposisi dan cahaya, karya seorang fotografer jalanan yang namanya baru saya kenal dari majalah bekas. Saya sudah membaca separuh bab pertama, larut dalam penjelasan tentang bagaimana bayangan bisa jadi subjek yang lebih jujur ketimbang cahaya itu sendiri, ketika seseorang berdiri di sebelah saya. Menunggu dengan sopan, namun jelas tak sabar.

"Maaf," katanya, "itu buku yang tinggal satu, kan? Saya juga sedang mencarinya."

Saya menoleh. Seorang perempuan, berambut panjang tergerai, membawa tas jinjing kain yang terlihat sudah dipakai bertahun-tahun. Kulitnya lebih terang dari kebanyakan orang di sekitar kami, matanya menatap buku di tangan saya dengan sorot yang campur aduk. Itulah pertama kalinya saya melihat Mei—meski waktu itu saya belum tahu namanya, apalagi menduga betapa jauh perjalanan yang akan kami tempuh, dan betapa rumit jalan yang harus kami hadapi karena dua latar belakang yang begitu berbeda.

Saya buru-buru menyerahkan buku itu, agak salah tingkah. "Oh, iya, ini, silakan. Saya cuma baca-baca saja, kok, bukan mau beli."

Kalimat itu meluncur begitu saja sebelum sempat saya saring. Dan seperti yang bisa Sobat duga, kepolosan itu justru membuka pintu yang tak pernah saya sangka.

Mei menerima buku itu, membolak-baliknya sebentar, lalu menatap saya lagi. "Kamu suka fotografi?"

"Suka. Cuma belum punya kamera yang bagus. Dan—" saya tertawa kecil, mencoba menutupi rasa canggung, "—belum punya cukup uang buat beli buku ini juga, sebenarnya."

Saya kira ia akan tersenyum sopan lalu pergi. Tapi Mei justru terdiam sejenak, seolah menimbang sesuatu di kepalanya. Wajahnya berubah; ada semacam rasa tak enak yang tiba-tiba muncul di sana, seakan-akan dialah yang telah merebut sesuatu dari saya.

"Kalau begitu," katanya akhirnya, "biar saya yang beli. Nanti saya pinjamkan ke kamu."

"Eh, tidak usah, saya—"

"Sudahlah," potongnya. Ia sudah melangkah ke arah kasir sebelum saya sempat menyelesaikan penolakan.


Buku yang Dipinjamkan


Saya berdiri mematung di depan rak, setengah tak percaya, mengikutinya dengan pandangan sampai ia selesai di meja kasir. Ketika ia kembali, buku itu sudah terbungkus rapi dalam plastik toko, dan ia menyerahkannya kepada saya begitu kami sama-sama melangkah keluar dari pintu kaca.

"Ini," katanya, menyodorkan kantong itu. "Pinjam saja. Satu minggu cukup, kan? Baca baik-baik, terus kembalikan ke rumah saya."

Saya masih mencoba menolak. Rasanya tidak pantas menerima kebaikan sebesar itu dari orang yang baru saya kenal lima menit lalu. Tapi Mei adalah jenis orang yang, begitu keputusannya dibuat, tak menyisakan banyak ruang untuk berdebat. Ia hanya mengangkat bahu, seolah apa yang dilakukannya bukan perkara besar, lalu mengeluarkan secarik kertas kecil, menuliskan alamat rumahnya dengan pena yang tintanya sudah agak seret.

"Rumah saya di sini," katanya. "Minggu depan, jam segini, kamu datang, kembalikan bukunya. Kalau kamu suka isinya, kita bisa ngobrol soal itu."
Dan begitulah, Sobat. Sebuah buku yang seharusnya hanya numpang dibaca, tiba-tiba berpindah tangan. Tanpa sadar, secarik kertas itu menjadi alasan pertama saya mengetuk pintu rumahnya, sekaligus alasan pertama saya melangkah masuk ke dalam sebuah dunia yang tak akan pernah benar-benar menjadi milik saya.


Satu Minggu yang Terasa Panjang


Saya membaca buku itu pelan-pelan. Seolah setiap halaman punya bobot yang lebih berat karena ada seseorang di baliknya yang memercayakannya kepada saya. Di malam-malam sebelum jadwal pengembalian, saya bahkan membaca ulang beberapa bagian, khawatir kalau nanti ditanya dan saya tak bisa menjawab. Konyol, memang. Tapi begitulah cara rasa suka bekerja; ia menyusup diam-diam ke hal sekecil kewajiban mengembalikan buku.

Tepat seminggu kemudian, saya datang ke alamat itu. Rumahnya lebih besar dari yang saya bayangkan, berpagar tinggi. Di sudut halaman ada sebuah altar kecil, bersih dan terawat, dengan sisa asap dupa yang masih menggantung tipis di udara sore. Saya hanya melihatnya sekilas—sesuatu yang asing tapi tak terasa penting untuk ditanyakan—dan baru bertahun-tahun kemudian saya paham betapa altar kecil itu sebenarnya sudah menceritakan segalanya, jauh sebelum siapa pun sempat bicara.

Mei membukakan pintu, tersenyum. "Wah, tepat waktu. Saya kira kamu bakal lupa."

"Buku bagus susah dilupakan," jawab saya, mencoba terdengar lebih santai dari detak jantung saya sendiri.

Sore itu berubah menjadi obrolan panjang di teras. Obrolan yang saya kira hanya akan berlangsung sepuluh menit itu baru berakhir ketika azan Maghrib berkumandang dari masjid di ujung gang. Mei menoleh sebentar ke arah suara itu, lalu kembali menatap saya, seperti sedang menakar sesuatu di kepalanya yang tak saya mengerti. Saya sempat berpikir sekilas, apakah suara azan itu terdengar asing di telinga keluarganya? Pikiran yang saat itu saya anggap tak penting, dan baru kelak saya sadari betapa esensialnya.

(Bersambung ke Coretan Bagian Kedua)

Jumat, 25 September 2026

Kalau Besok Sobat Meninggal, Apakah Foto-Foto Sobat Layak Dikenang? (Jawaban Jujur dari Seorang Hampir Jadi Fotografer)



Beraban, Tabanan, Bali, Jum'at, 25 September 2026

Seandainya besok Sobat tiada... Pertanyaan ini mungkin terdengar agak ekstrem, atau sekilas seperti omongan melantur dari orang yang kurang tidur setelah kebanyakan ngopi semalaman. Tapi serius, mari kita pikirkan sejenak. Jika besok adalah hari terakhir Sobat memegang kamera, apakah deretan foto di hard disk atau feed media sosial Sobat sudah benar-benar mencerminkan siapa Sobat secara utuh? Ataukah itu sekadar kumpulan gambar bagus tak berjiwa yang bisa dibuat oleh siapa saja?

Kemarin malam di warung kopi langganan, si Bedul—kawan saya yang selalu punya komentar sinis untuk hampir segala hal—nyeletuk sambil memandangi layar ponselnya. "Nih liat, orang beli kamera seharga mobil bekas, lensanya segede teropong bintang, cuma buat motret es kopi susu dari jarak lima senti. Itu pun out of focus!"

Kami tertawa, menertawakan absurditas di sekitar kami. Tapi pulang dari warung malam itu, saya tidak bisa berhenti memikirkan celetukan Bedul. Bukan soal es kopi susu yang out of focus—melainkan soal berapa banyak dari foto saya sendiri yang, kalau jujur, juga lahir dari dorongan yang sama: pamer alat, bukan bicara jiwa. Kadang, banyak fotografer yang terlalu sibuk memuja dewa resolusi, berdebat urat leher soal ketajaman lensa dari sudut ke sudut, dan mati-matian mengejar komposisi serta exposure yang dianggap 'sempurna'. Saking sibuknya dengan urusan teknis, mereka lupa merenungkan pertanyaan paling mendasar: apa sebenarnya makna fotografi bagi diri mereka sendiri?

Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa skill teknis itu mutlak perlu. Ibarat seorang penulis, kita harus tahu tata bahasa agar pesannya sampai. Tapi ingat, menguasai tata bahasa dan punya mesin tik mahal tidak lantas otomatis membuat seseorang menjadi penyair. Skill teknis mengantarkan visi, tapi bukan itu yang melahirkan sebuah gaya atau style yang luar biasa.

Gaya bukanlah preset filter estetis yang bisa Sobat beli, download, lalu tempelkan ke semua foto agar terlihat berseni. Gaya adalah cerminan utuh dari diri, jalan hidup, tawa, luka, dan tumpukan pengalaman Sobat. Karya foto yang sejati adalah pantulan kondisi batin dan cara Sobat menertawakan, atau meratapi, dunia ini.

Kita sekarang hidup di era yang bisa dibilang sebagai "masyarakat gambar tanpa ujung". Tiap hari, dari melek mata sampai mata memerah menahan kantuk, kita terus dibombardir oleh polusi visual. Iklan, pameran pencapaian orang, liburan estetik yang kadang cuma sebatas konten, sampai pameran spesifikasi alat fotografi yang berkedok karya. Visual-visual instan ini dikunyah habis-habisan demi satu hal: validasi. Makanya, tidak heran kalau banyak orang akhirnya kehilangan arah dan identitas—visi sejati mereka terkubur di bawah tumpukan standar orang lain yang sebenarnya tidak pernah mereka minta.

Bagi saya pribadi, dalam soal asupan visual: less is absolutely more. Semakin sedikit, justru semakin membebaskan. Saat saya memutuskan mengambil jarak dari hiruk-pikuk etalase digital itu dan hanya memakai media sosial murni sebagai medium untuk meletakkan karya—bukan sebagai asupan konsumsi tanpa henti—pikiran saya menjadi jauh lebih jernih. Rasanya seperti menemukan sudut yang sepi dan tenang di tengah hiruk pikuk pasar malam. Ruang kosong itu memberi saya kebebasan untuk meracik ide-ide baru tanpa terdistraksi standar orang lain.

Dan ketika jeda antara ide di kepala dan eksekusi jari di tombol shutter makin singkat, di situlah keajaiban kecil terjadi. Saya jauh lebih suka dipengaruhi oleh dunia nyata yang kasar dan tak sempurna—oleh denyut kehidupan orang-orang yang berjuang di jalanan, atau oleh alam yang kadang menampilkan kemuraman. Pengalaman yang otentik, bukan sekadar visual kosmetik yang dipoles berjam-jam demi sejempol apresiasi semu. Ada semacam keindahan dalam ketidaksempurnaan, di mana kejujuran batin terasa lebih berharga dan bernyawa daripada sekadar kesempurnaan piksel.


Pada akhirnya, menemukan style fotografi adalah tentang proses menelanjangi diri Sobat sendiri. Gaya Sobat tidak lahir dari contekan referensi visual di kolom pencarian, melainkan dari perjalanan panjang yang kadang sunyi untuk menemukan jati diri. Ini butuh pemahaman mendalam dan kejujuran brutal tentang siapa Sobat sebenarnya, dan bagaimana cara Sobat menapakkan kaki di dunia ini.

Memiliki gaya dan selera bukan sebatas peristiwa "menemukan" sebuah formula framing yang pas lalu mengulangnya sampai mati kebosanan. Ini tentang konsistensi berkarya di tengah rasa malas, merangkul manis-pahitnya pengalaman hidup, dan tentang penjelajahan abadi. Bukan sekadar menjelajah dunia luar mencari spot foto yang sedang viral, tapi yang jauh lebih berat dan sejati adalah: menjelajahi lorong-lorong gelap di dalam batin Sobat sendiri.

Lantas, bagaimana cara Sobat menemukan gaya tersebut?

Mulailah dari langkah sederhana ini: kenali betul apa yang Sobat sukai dan apa yang tidak. Jujurlah pada selera Sobat, se-nyeleneh apa pun itu—seperti Bedul yang jujur bilang dia tidak paham kenapa orang rela repot-repot hanya demi motret es kopi susu. Selera Sobat itulah kompas utamanya. Jika jiwa Sobat lebih bergetar memotret kesunyian dalam balutan hitam-putih yang pekat, jangan paksakan diri memotret gemerlap pesta yang penuh warna hanya agar disukai banyak orang.

Suatu hari nanti, waktu kita di sini akan habis. Kamera kita mungkin rusak, atau tangan kita sudah terlalu rapuh dan gemetar untuk sekadar mengangkatnya. Namun, karya-karya yang kita ciptakan akan tetap tertinggal di sana, membeku melawan waktu.

Semoga, ketika seseorang di masa depan melihat foto-foto itu, mereka tidak mempedulikan seberapa tajam lensa yang Sobat gunakan atau seberapa mahal perlengkapan Sobat. Semoga mereka menatap selembar foto tersebut, terdiam sejenak, dan bergumam dalam hati, "Aku tidak kenal siapa dia, tapi aku bisa merasakan jiwanya di sini."

Karena pada titik akhirnya, karya terbaik Sobat bukanlah foto yang mendapat piala tertinggi atau tepuk tangan paling riuh, melainkan foto yang paling jujur bercerita... bahwa Sobat pernah ada, pernah berjuang, dan pernah merasakan detak dunia ini dengan segenap hati.

Dumunung ing Jati Diri

Salam Jepret Selalu...

Kamis, 24 September 2026

Kamera Dipuji, Fotografer Dicaci: Bongkar Bias di Balik Setiap Jepretan (Coretan Bagian Kedua)



Beraban, Tabanan, Bali, Kamis, 24 September 2026

(sambungan dari bagian pertama)

Bayangkan Kalau Logika Ini Berlaku di Dapur atau Ruang Tulis


Untuk melihat betapa timpangnya standar ganda ini, coba kita pindahkan logikanya ke profesi lain—dan saksikan betapa konyolnya kalau dipraktikkan di luar dunia fotografi.

Bayangkan Sobat makan di restoran bintang lima. Steak-nya empuk, bumbunya meresap sempurna sampai ke serat terdalam. Lalu Sobat menghampiri sang koki dan berkata, "Wah, enak banget! Pasti kompor dan wajannya merek mahal impor, ya?" Sang koki, yang baru saja menghabiskan dua puluh tahun mengasah rasa dan menghafal titik didih mentega yang pas, mungkin akan pasang tampang perang sambil menahan diri untuk tidak melempar wajan dus kompor dan tabung gasnya.

Atau bayangkan seorang penulis novel yang bukunya menjadi best-seller dan bertengger di rak toko buku selama berbulan-bulan. Dalam sebuah wawancara, seorang kritikus berkomentar, "Novel Sobat luar biasa menyentuh! Laptop yang dipakai ngetik pasti spek-nya dewa dan layarnya OLED, ya?" Bayangkan muka si penulis—campuran antara bingung dan ingin bertanya balik, "Apakah alur cerita petualangan bakal jadi lebih mencekam kalau prosesor laptopnya sudah yang teranyar?"

Terdengar aneh, bukan? Konyol, bahkan. Kita semua tahu kompor tidak bisa memasak sendiri, dan laptop tidak punya imajinasi untuk merangkai kalimat—kalau bisa, mungkin sudah dari dulu ia menulis surat cinta untuk dirinya sendiri dan berhenti menerima perintah update yang menyebalkan itu. Tapi entah bagaimana, saat logika yang sama dipindahkan ke dunia fotografi, orang-orang menganggapnya wajar-wajar saja. Kamera, sialnya, satu-satunya benda mati yang berhasil meyakinkan mayoritas populasi homo sapiens-sapiens bahwa dirinya punya bakat seni sendiri.


Perkenalkan: Self-Serving Bias


Fenomena ini, untungnya, sudah lama dipetakan oleh para psikolog dan punya nama resmi: self-serving bias, kecenderungan manusia mengaitkan keberhasilan dengan faktor internal dirinya sendiri—bakat, kecantikan, kerja keras—sementara kegagalan dilempar ke faktor eksternal di luar kendalinya. Bias ini bukan cuma muncul di sesi foto keluarga; ia juga rajin nongol setiap kali mahasiswa dapat nilai A ("saya memang pintar") lalu dapat nilai D di mata kuliah lain ("dosennya killer"), atau setiap kali atlet menang ("kerja keras saya") lalu kalah ("wasitnya curang"). Fotografi cuma kebetulan jadi salah satu panggung paling terang benderang tempat bias ini tampil tanpa rasa malu.

Dalam konteks foto potret, ego manusia bekerja dengan sangat rapi, nyaris seperti koreografer ulung yang tahu persis kapan harus tampil dan kapan harus bersembunyi:

Saat foto bagus, ego melangkah maju sambil membungkuk hormat, "Aku emang aslinya fotogenik, kameranya juga mendukung." Mengakui bahwa fotografer punya skill mengarahkan cahaya dan menangkap momen terasa seperti mengurangi porsi kecantikan diri sendiri. Maka pujian dialihkan ke kamera—objek mati yang tidak protes, tidak menuntut royalti, dan tidak akan pernah menyaingi ego manusia.

Saat foto jelek, ego buru-buru bersembunyi di balik tirai, menolak disebut namanya. Daripada mengakui gaya tubuh yang kaku atau ekspresi yang canggung, cara paling instan menyelamatkan harga diri adalah mencari kambing hitam. Dan kambing hitam paling empuk dalam skenario ini, tentu saja, adalah si pemegang kamera—yang bahkan tak sempat protes karena sudah keburu sibuk menghapus foto diiringi derai hujan makian diselingi petir sumpah-serapah.

Simpelnya: kita selalu butuh pihak lain untuk disalahkan saat hasilnya buruk, tapi ingin memborong semua pujian sendirian saat hasilnya memukau. Manusia memang makhluk yang piawai membagi tanggung jawab—selama pembagiannya selalu menguntungkan diri sendiri.


Kamera Cuma Alat, Fotografer Adalah Jiwanya


Sebelum pembaca menuduh tulisan ini sepenuhnya membela fotografer secara membabi buta—baik, mari kita adil sedikit. Kamera memang bukan sekadar kotak kosong. Sensor yang lebih baik bakal sangat membantu menangkap detail di kondisi cahaya minim. Autofokus yang cepat bisa jadi dewa penyelamat saat memotret anak kecil yang tak bisa diam barang tiga detik, atau kucing yang tampaknya punya dendam pribadi pada konsep "pose." Jadi tidak, kamera bukan tanpa peran. Hanya saja, perannya sering dilebih-lebihkan sampai melampaui porsi yang seharusnya—seperti pemain cadangan yang tiba-tiba diberi piala Pemain Terbaik karena kebetulan ber-selebrasi secara maksimal dan memukau di depan kamera saat rekannya di lapangan menyarangkan gol kemenangan.

Teknologi memang sudah melompat jauh. AI bisa mengoreksi warna otomatis, sensor bisa menangkap detail sekecil apa pun, bahkan ponsel pun sekarang bisa berpura-pura punya bokeh profesional lewat algoritma. Tapi ada satu hal yang tidak akan pernah dimiliki teknologi secanggih apa pun: rasa, visi, dan penjiwaan. Tidak ada algoritma yang bisa mengajari subjek untuk rileks, tidak ada sensor yang tahu kapan harus menunggu satu detik lagi sampai senyum itu menjadi tulus, bukan dipaksakan.

Kamera mahal, pada dasarnya, hanyalah alat bantu—sama seperti kuas bagi pelukis atau pena bagi penyair. Tak ada yang memuji pena Pramoedya Ananta Toer sebagai alasan di balik keindahan dan keagungan tetralogi bumi manusia. Tanpa pemahaman komposisi, kepekaan terhadap arah cahaya, kemampuan membuat subjek nyaman di depan lensa, dan kesabaran menunggu momen yang pas, kamera seharga ratusan juta pun hanya akan menghasilkan foto blur yang dipaksakan estetisnya—atau paling banter, foto kucing yang matanya merah menyala seperti baru bangkit dari kematian.

Jadi lain kali Sobat melihat foto yang luar biasa, arahkan pujian itu ke mata, otak, dan hati di balik lensa—bukan ke mesin di dalamnya. Dan lain kali hasil fotonya kurang bikin senang di hati, mungkin sebelum memaki-maki dan mengutuk fotografernya, coba tanya dulu ke diri sendiri: sudahkah saya berhenti menunduk membalas chat selama tiga detik yang diminta?

Pujilah sang kreator, bukan alatnya. Kameranya cuma numpang tenar.

Selasa, 22 September 2026

Kamera Dipuji, Fotografer Dicaci: Bongkar Bias di Balik Setiap Jepretan (Coretan Bagian Pertama)



Beraban, Tabanan, Bali, Selasa, 22 September 2026

Ketika Penghargaan Selalu Salah Alamat


Pernahkah Sobat berdiri di sebuah pameran foto, terpaku pada sebuah potret yang begitu hidup, lalu mendengar seseorang di sebelah Sobat berbisik, "Wah, tajam banget hasilnya. Pasti kameranya mahal, ya?"

Kalimat itu terdengar seperti pujian. Tapi bagi fotografer—amatir, pehobi, atau profesional sekalipun—ia adalah pelukan hangat yang diam-diam menyembunyikan pisau kecil di balik punggungnya. Sebuah pertanyaan retoris yang sebetulnya menyimpan keresahan yang jauh lebih dalam: kenapa saat hasil fotonya bagus, yang dipuji selalu kameranya, tapi begitu fotonya jelek, yang disalahkan mutlak fotografernya?

Belum ada yang pernah memuji kalkulator seorang akuntan saat laporan keuangannya rapi. Belum ada yang bilang ke dokter bedah, "Wah, pisau bedahnya canggih ya, sampai operasinya sukses." Tapi entah kenapa, kamera mendapat previlese istimewa yang tak pernah diberikan pada alat lain: dipuja saat menang, dan menghilang tanpa jejak saat kalah. Mari kita bongkar realitas di balik layar yang jarang disadari orang awam.


Perjuangan di Balik Satu Jepretan


Saat sebuah potret terlihat memukau—tajam, dengan bokeh yang meleleh lembut di latar belakang—orang dengan mudah mengaitkannya pada sensor canggih atau lensa seharga puluhan juta. Yang mereka lupa, atau memang tak pernah tahu, adalah perjuangan fisik dan mental di balik lensa itu.

Di balik satu foto tajam, ada seseorang yang menahan napas beberapa detik demi tangan yang tidak goyang, seolah sedang menjinakkan bom, padahal yang dijinakkan cuma tremor tangan sendiri akibat kebanyakan kopi. Ada tubuh yang rela jongkok, merangkak, bahkan tiarap di tanah kotor—kadang di dekat kotoran anjing yang untungnya baru disadari setelah sesi foto selesai—demi satu angle yang membuat kaki subjek terlihat lebih jenjang. Ada otak yang berlari cepat menghitung arah datangnya matahari, meracik segitiga eksposur dalam hitungan detik, sambil mengarahkan gaya subjek yang kaku agar terlihat natural di depan lensa—sebuah pekerjaan yang, jujur saja, kadang lebih mirip negosiasi sandera daripada sesi pemotretan.

Tapi begitu foto selesai diproses dan dibagikan, yang menerima piala tetap saja: si kamera. Fotografer pulang membawa pegal di pinggang dan lutut kotor, sementara kamera dipuja bagaikan pusaka keramat yang baru turun dari langit.


Ketika Kamera Tiba-Tiba "Kehilangan Kesaktian"


Sekarang bandingkan dengan skenario yang tak kalah akrab.

"Ih, kok muka aku bulat banget di foto ini? Kamu nggak bisa motret, ya?"

Padahal, coba tengok apa yang sebenarnya terjadi. Subjek sedang menunduk sambil sibuk membalas chat. Kamera diambil dari bawah, low angle yang keliru, hasil dari fotografer yang terburu-buru karena diteriaki "cepetan, keburu golden hour lewat!" Belum lagi si subjek belum sepenuhnya siap, ekspresinya masih dalam mode "lagi mikirin makan siang," tapi sudah keburu diperintah, "satu, dua, jepret!" Kombinasi postur yang kurang pas dan sudut pengambilan yang salah tentu mengubah proporsi wajah secara visual—itu fisika dasar optik, bukan sihir, dan tentu saja bukan kutukan dari kamera yang tiba-tiba berubah pikiran soal siapa yang layak terlihat cantik hari itu.

Tapi anehnya, di momen inilah kamera berspesifikasi dewa yang tadi dipuji setinggi langit, tiba-tiba kehilangan seluruh kesaktiannya. Ia mendadak dianggap "biasa saja", turun pangkat dari pusaka sakti menjadi kotak logam yang katanya "emang segitu-gitu aja kualitasnya." Seluruh kesalahan ditimpakan penuh kepada fotografer yang katanya "tidak tahu cara memotret"—padahal fotografer yang sama itulah yang, lima menit sebelumnya, dipuji seolah baru saja memenangkan Pulitzer.

Kamera yang sama. Orang yang sama di baliknya. Tapi standar penilaiannya berubah seratus delapan puluh derajat, tergantung siapa yang diuntungkan oleh hasilnya. Kamera, rupanya, adalah satu-satunya alat di dunia yang reputasinya naik-turun secepat mood subjek yang difoto.

Mari kita bongkar kenapa logika ini runtuh total saat diterapkan ke profesi lain—dan apa sebenarnya nama ilmiah dari bias yang membuat kita begitu pandai mencari kambing hitam ini.