Pagi itu, saya berdiri di trotoar yang retaknya lebih jujur daripada senyum orang-orang di sekitarnya. Kamera menggantung di leher, bukan sebagai alat—tapi sebagai alasan untuk mengamati tanpa harus terlibat terlalu jauh.
Di depan saya, seorang bapak menyeruput kopi sachet di warung pinggir jalan. Di sebelahnya, dua orang sibuk berbisik, sesekali melirik ke arah seorang pemuda yang duduk sendirian. Saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi saya tahu pola ini. Saya sudah terlalu sering memotretnya—dengan mata, sebelum dengan kamera.
Klik.
Bukan karena momennya luar biasa. Tapi karena saya tahu, di dalam frame itu, ada satu hal yang selalu berulang: seseorang sedang menjadi tokoh utama dalam cerita orang lain—tanpa pernah diminta.
Dulu, saya tidak seperti ini.
Dulu, saya adalah tipe fotografer yang lebih sibuk memastikan semua orang nyaman daripada mendapatkan gambar yang jujur. Saya terlalu sering minta izin. Minta maaf terlalu banyak. Bahkan untuk memotret bayangan pun rasanya perlu klarifikasi dulu, seakan-akan cahaya punya perasaan yang bisa tersinggung.
Saya takut dianggap aneh. Takut dibilang sok artistik. Takut jadi bahan gunjingan.
Dan lucunya, justru karena itu, saya tidak pernah benar-benar menghasilkan apa-apa selain foto yang aman, foto yang biasa saja, foto yang hanya cukup untuk dilihat sekilas dan kemudian terlupakan.
Sampai suatu hari saya sadar: mencoba membuat semua orang menyukai kita itu seperti mencoba mengunduh RAM dari internet—konsepnya menarik, tapi pada dasarnya bodoh.
Sejak itu, saya mulai berubah.
Bukan jadi lebih dingin. Tapi jadi lebih jujur.
Sekarang, kalau saya melihat momen yang menarik, saya tidak lagi sibuk bertanya, “Nanti mereka tersinggung nggak ya?” Saya lebih sering bertanya, “Kalau tidak saya ambil sekarang, apakah momen ini akan mati sia-sia?”
Klik.
Ada ibu-ibu yang langsung pasang tampang jelek plus matanya melotot karena merasa diambil gambarnya tanpa izin.
Klik.
Ada remaja yang berbisik, “Ngapain sih difoto-foto?”
Klik.
Dulu, mungkin saya akan mundur hanya karena itu. Sekarang? Saya akan tetap berdiri di tempat.
Bukan karena saya ingin jadi “bangsat”. Tapi karena saya akhirnya paham—di mata sebagian orang, kamu akan selalu jadi sesuatu. Kalau bukan aneh, ya sombong. Kalau bukan sombong, ya sok beda.
Label itu seperti noise dalam foto ISO tinggi: tidak bisa dihilangkan sepenuhnya. Yang bisa kamu lakukan hanya satu—memastikan subjek utamamu tetap tajam.
Dan dalam hidup, subjek itu… ya kamu sendiri.
Pernah suatu sore, saya memotret seorang pria tua yang duduk sendirian di halte. Cahaya matahari jatuh tepat di wajahnya, menciptakan kontras yang terlalu indah untuk dilewatkan.
Saya ambil satu frame.
Saat saya cek hasilnya, seseorang di belakang saya berkomentar,
“Kasian ya, orang itu dijadiin objek tanpa izin.”
Saya menoleh. Tidak menjawab.
Dalam hati, saya hanya berpikir:
Kasihan itu relatif. Yang lebih kasihan adalah hidup tanpa pernah benar-benar melihat.
Karena bagi saya, fotografi bukan tentang mengambil sesuatu dari orang lain. Ini tentang mengakui bahwa momen sekecil apa pun layak untuk dilihat—bahkan jika dunia terlalu sibuk untuk peduli.
Seiring waktu, saya mulai menyadari sesuatu yang lebih besar.
Energi itu terbatas.
Seperti baterai kamera yang selalu drop di momen penting, hidup juga punya batas daya. Dan terlalu sering, kita menghabiskannya untuk hal-hal yang bahkan tidak masuk ke dalam frame kehidupan kita sendiri—komentar orang, penilaian acak, ekspektasi yang tidak pernah kita setujui.
Dulu, saya bisa menghabiskan berjam-jam hanya untuk memikirkan satu hal sederhana:
“Kenapa si A berubah sikap?”
Sekarang?
Lebih baik saya pakai waktu itu untuk jalan kaki tanpa tujuan, menunggu cahaya jatuh di tempat yang tepat, atau sekadar duduk sambil memperhatikan orang-orang menjalani hidup mereka yang tidak ada hubungannya dengan saya.
Ternyata, damai itu sesederhana itu.
Menjadi tidak disukai itu awalnya terasa seperti kehilangan.
Tapi lama-lama, rasanya lebih seperti… proses seleksi alam.
Orang-orang yang bertahan bukan yang paling banyak mengerti kamu, tapi yang tidak sibuk menilai setiap langkahmu. Sisanya? Ya, mereka tetap ada—sebagai latar belakang.
Dan tidak apa-apa.
Tidak semua orang harus jadi subjek utama.
Sekarang, kalau ada yang bilang saya berubah, saya akan mengiyakan dan kasih senyum manis sambil mengangguk.
Memang.
Saya tidak lagi tertarik menjelaskan diri kepada orang yang sudah lebih dulu memutuskan siapa saya. Itu seperti mencoba mengatur white balance di mata orang yang memang ingin melihat segalanya jadi gelap.
Ingin melabeli saya sebagai “penjahat”? Silakan.
Kalau dengan menjadi “jahat” saya bisa hidup lebih jujur, memotret lebih bebas, dan pulang dengan isi kepala yang masih waras—itu harga yang sangat murah.
Sore mulai turun. Langit berubah warna, seperti gradasi yang terlalu halus untuk ditangkap sensor kamera murah.
Saya duduk di pinggir jalan, kopi di tangan kanan, rokok di tangan kiri, kamera digantung di leher.
Di sekitar saya, orang-orang masih sibuk—berjalan, berbicara, tertawa, menilai.
Saya tidak tahu siapa yang sedang mereka bicarakan hari ini.
Dan untuk pertama kalinya, saya benar-benar tidak peduli.
Klik.
Bukan ke arah mereka.
Tapi ke arah cahaya terakhir yang jatuh di aspal.
Karena pada akhirnya, dunia tidak berubah hanya karena seseorang menganggapmu buruk.
Tapi hidupmu berubah…
saat kamu berhenti memasukkan suara mereka ke dalam frame.
Catatan:
Artikel ini adalah celoteh singkat yang saya tulis semalam. Saya menulis ini karena terinspirasi satu pertanyaan dari kawan saya: "Kenapa Lu sekarang berubah?"




.jpeg)