Ikigai itu konsep Jepang yang artinya kira-kira "alasan untuk bangun pagi". Konon, kakek-kakek di Okinawa bangun subuh untuk berkebun sambil tersenyum, dan umurnya panjang-panjang. Kita tidak tahu pasti apakah mereka tersenyum karena mendalami filosofi itu, atau karena memang pikiran mereka bebas dari beban cicilan lensa.
Sekarang bayangkan kalau konsep yang luhur itu merasuki jiwa seorang fotografer jalanan. Hasilnya: orang dewasa yang rela memanggul tas sepuluh kilo, menyusuri gang-gang sempit di bawah terik matahari jam dua belas siang, demi memburu satu bayangan dengan komposisi yang pas. Dokter mungkin menyebutnya kelelahan fisik. Sobat menyebutnya panggilan jiwa. Orang rumah menyebutnya "kelakuan", dan orang awam di pasar yang melihatnya mungkin akan bergumam, “orang gila!”.
Bagi kita yang sering berkeliaran di jalan, ikigai adalah alasan untuk terus menekan tombol shutter, bahkan ketika isi dompet sudah memohon ampun. Memang, kadang ada momen khilaf. Sobat mungkin pernah memotret seluruh gear andalan untuk diunggah ke Marketplace, lengkap dengan takarir, "jarang pakai, mulus, nego tipis". Lalu niat itu mendadak batal, karena tidak tega berpisah dengan lensa 35mm yang sudah menemani Sobat menyusuri aspal lebih lama daripada hubungan asmara mana pun.
Kalau hasrat memotret itu tiba-tiba menguap, rasanya mirip lupa cara bernapas: lemas, linglung, dan hidup tampak seperti file RAW mentah tanpa sentuhan edit—datar dan kelabu. Bedanya, file RAW masih bisa diselamatkan lewat satu geseran slider kontras. Hidup, tentu butuh usaha dan segelas kopi hitam ekstra untuk bangkit lagi.
Satu catatan jujur sebelum kita lanjut ngobrol. Diagram empat lingkaran yang sering seliweran di Instagram itu sebenarnya adaptasi Barat, bukan murni ikigai asli. Aslinya jauh lebih sederhana dan membumi: hal-hal kecil yang membuat hidup terasa layak dijalani. Tidak melulu soal karier, apalagi saldo tabungan. Tapi, karena diagram empat lingkaran itu asyik dipakai untuk bahan obrolan sambil nongkrong, mari kita bedah saja. Ikigai pasti memaklumi.
1. Apa yang Sobat Cintai (What You Love)
Bukan, ini bukan sekadar cinta buta pada kamera full-frame keluaran terbaru atau lensa idaman seharga dua ginjal. Kalau itu yang Sobat cintai, namanya konsumerisme berbalut strap kulit yang bagus.
Yang dimaksud di sini adalah desiran bahagia yang menggelitik dada saat cahaya sore berpendar pas jatuh di wajah gurat lelah seorang pedagang pasar. Atau saat siluet seseorang berjalan sendirian di bawah lampu jalan, seolah semesta sengaja menata panggung film noir dengan pencahayaan low-key khusus untuk lensa Sobat. Cinta ini begitu irasional sampai-sampai Sobat rela keluyuran, padahal akal sehat, orang rumah, dan awan mendung sudah sepakat menyuruh pulang. Duduk santai di warung sambil memesan kopi online adalah tawaran yang masuk akal. Tapi Sobat menolaknya demi menangkap momen seorang bapak penjual kerupuk yang kebetulan berdiri di titik cahaya chiaroscuro sempurna, lalu dengan percaya diri membeli sekantong kerupuknya sebagai "uang sewa model".
2. Apa yang Sobat Kuasai (What You Are Good At)
Hafal di luar kepala soal segitiga eksposur dan jago membaca histogram sampai mata juling itu memang bagus, tapi itu sekadar kemampuan membaca buku panduan, bukan keahlian sejati.
Keahlian sejati Sobat adalah menata kekacauan visual. Jalanan yang bising oleh klakson, kepulan asap gorengan, kabel listrik yang kusut masai mirip mi instan, hingga spanduk sedot WC, semuanya bisa Sobat ringkas menjadi satu bingkai yang mendadak terasa sunyi, jujur, dan puitis. Orang awam melihat tiang listrik yang mengganggu. Sobat melihat garis penuntun (leading lines). Orang awam melihat tukang parkir yang sibuk melambai-lambai, Sobat melihatnya sebagai elemen "gerak dinamis".
Insting semacam ini tidak lahir dari kursus kilat tiga jam bersertifikat tinta emas. Ia ditempa dari ribuan frame foto blur, belasan kartu memori yang mendadak corrupt, dan tatapan curiga satpam yang yakin kalau Sobat adalah mata-mata. Itulah ijazah sesungguhnya, dengan kampus bernama trotoar jalanan dan dosen penguji bernama teriknya matahari siang.
3. Apa yang Dibutuhkan Dunia (What the World Needs)
Dunia hari ini terlalu bising oleh hiruk-pikuk video transisi lima detik dan foto makanan yang filternya sudah menghilangkan wujud asli makanannya. Orang-orang menggulir layar gawai dengan kecepatan yang membuat jempol butuh fisioterapi. Di tengah pusaran itu, dunia butuh rem darurat.
Di titik itulah fotografer hadir sebagai saksi zaman yang jujur. Dunia tidak selalu membutuhkan foto pameran yang terlalu konseptual sampai-sampai penontonnya harus mengerutkan dahi pura-pura paham. Kadang, ia cuma butuh pengingat visual bahwa denyut human interest di sekitar kita itu nyata: tukang tambal ban yang tertidur berselimut debu sambil menggenggam kunci pas, atau kakek penarik becak yang menyeka peluh di sudut pasar. Bingkai semacam itu mungkin tidak akan viral. Tapi ia adalah bukti otentik bahwa kemanusiaan kita belum punah, dan nilai itu jauh lebih awet daripada tren sesaat mana pun.
4. Apa yang Bisa Membuat Sobat Dibayar (What You Can Be Paid For)
Mari bicara realita yang sering jadi bahan tertawaan getir di tongkrongan: uang.
Syukur-syukur ada pihak yang bersedia membeli karya foto Sobat atau membayar jasa dokumentasi dengan layak. "Layak" di sini artinya dibayar dengan uang sungguhan, bukan dengan koin "exposure", dalih "kolaborasi saling menguntungkan", atau janji manis "nanti kami tag di Instagram". Bagaimanapun, Sobat tidak bisa membeli token listrik pakai tag. Hingga saat ini PLN belum menerima notifikasi sebagai alat pembayaran. Sayangnya, klien yang hobi meminta foto gratis dengan alasan demi "portofolio" jumlahnya kadang lebih banyak dari nyamuk di lokasi pemotretan senja, dan sama-sama tidak tahu diri.
Tapi, ada jenis bayaran lain yang nilainya tidak pernah tercetak di mutasi rekening. Yakni momen magis ketika Sobat memegang hasil cetak fisik foto tersebut di atas kertas. Saat Sobat menatapnya lekat-lekat dan bergumam sambil tersenyum simpul, "Sialan, karya ini bagus banget." Rasa utuh yang mengalir di dada itu sukses membuat jiwa terasa kenyang, bahkan di tanggal tua ketika dompet sudah menipis dan seduhan mi instan kembali jadi menu tetap. Tentu, kepuasan batin itu bukan pengganti gaji bulanan, tapi setidaknya ia cukup ampuh untuk membuat Sobat tidak kepikiran banting setir jadi akuntan.
Penutup
Pada akhirnya, ikigai bagi seorang fotografer bukanlah tentang deretan piala, jumlah followers, atau tepuk tangan di komunitas yang isinya hanya sesama fotografer yang saling memuji agar dipuji balik. Ikigai adalah alasan yang terus mendorong kaki melangkah.
Selama Sobat masih punya panggilan untuk mengangkat kamera ke depan mata—entah itu kamera andalan yang mahal atau sekadar kamera saku tua yang layarnya sudah bergaris-garis—Sobat masih hidup dalam arti yang paling sejati. Kamera di tangan Sobat bukan sekadar alat elektronik buatan pabrik. Ia adalah tabung oksigen penyambung napas. Dan selayaknya tabung oksigen penyambung nyawa, pantang hukumnya untuk dijual di Marketplace.
























