Semalam Bedul duduk di depan saya dengan wajah seseorang yang baru saja dihakimi oleh seluruh semesta. Kopinya masih panas. Keluhannya lebih panas lagi.
Saya bertemu Bedul di warung kopi langganan kami. Di luar, sisa-sisa gerimis membuat aspal jalanan memantulkan cahaya lampu jalan yang kekuningan, membawa masuk udara malam yang lebih dingin dan aroma tanah basah ke dalam warung. Ia datang lebih awal dari biasanya, sudah duduk di pojok dengan secangkir kopi hitam yang belum disentuh—dan itu saja sudah menjadi tanda bahaya. Bedul tidak pernah membiarkan kopi mendingin. Kalau ia tidak langsung menyeruputnya, berarti ada sesuatu yang lebih panas dari kopinya yang sedang ia pikirkan.
Saya duduk. Ia menatap saya dengan tatapan seseorang yang baru saja selesai diadili oleh warga karena kepergok berbuat asusila.
"Bro, tadi ada yang nanya ke gue: 'Katanya fotografer, kok nggak bawa kamera?' Gue lagi kondangan, bro. KONDANGAN. Bukan sesi pemotretan," keluhnya membuka percakapan.
Saya mengangguk pelan. Bukan karena saya setuju dengan kemarahannya—tapi karena saya sudah cukup mengenal Bedul untuk tahu bahwa yang ia butuhkan saat ini bukan tanggapan. Ia butuh pendengar. Dan kopi. Tapi kopinya masih panas, jadi pendengar dulu. Saya memesan kopi untuk diri saya sendiri. Ini akan panjang.
Ekspektasi yang Tidak Pernah Ia Minta
Bedul, bagi yang belum tahu, adalah fotografer. Bukan fotografer amatir yang masih belajar memahami segitiga eksposur. Ia fotografer sungguhan—yang kerjanya memotret, yang hidupnya berputar di sekitar kamera, cahaya, dan momen. Dan justru karena itu, kata Bedul, orang-orang di sekitarnya punya satu ekspektasi yang tidak pernah ia setujui tapi tidak pernah bisa ia tolak: bahwa ke mana pun ia pergi, kamera harus ikut.
"Seolah-olah gue ini kura-kura," katanya, akhirnya menyeruput kopinya yang kini sudah mulai berhenti mengepul, "yang nggak bisa lepas dari tempurungnya."
Masalahnya, lanjut Bedul, bukan hanya soal kondangan semalam. Ini sudah terjadi berkali-kali, dalam berbagai versi, dari berbagai mulut. Ada yang bertanya dengan nada heran. Ada yang bertanya dengan nada menuduh. Ada yang bertanya dengan nada yang paling menyebalkan dari semuanya: nada kecewa—seolah-olah Bedul baru saja mengecewakan seluruh keluarga besar dengan tidak mendokumentasikan acara makan siang dengan kualitas editorial.
"Dokter nggak bawa stetoskop ke kondangan. Koki nggak bawa pisau ke rumah mertua. Tapi fotografer nggak bawa kamera? Langsung kena sidang."
Saya harus akui—argumen itu cukup solid untuk disampaikan sambil minum kopi di warung jam sembilan malam. Bedul memang tidak pintar dalam banyak hal, tapi dalam hal merumuskan keresahan menjadi analogi yang menohok, ia cukup berbakat. Tolong jangan bilang ke Bedul bahwa saya bilang ia berbakat. Ia sudah cukup percaya diri.
Insting yang Tidak Punya Tombol Off
Di sekeliling kami, warung mulai ramai. Suara denting sendok yang mengaduk dasar gelas, tawa keras dari meja sebelah yang sedang main kartu, dan asap rokok yang mengambang lambat di bawah lampu neon menciptakan keriuhan khas warung kopi.
Tapi kemudian Bedul mencondongkan tubuhnya ke depan, seolah mengabaikan semua kebisingan itu, dan bilang sesuatu yang, kalau saya jujur, cukup mengejutkan saya. Ia bilang bahwa masalah sesungguhnya bukan kameranya. Masalah sesungguhnya adalah kepalanya sendiri.
"Waktu gue pegang kamera, otak gue langsung nyala. ISO berapa, bukaan berapa, angle dari mana. Otomatis. Gue jadi mesin. Dan gue capek jadi mesin terus, bro," akunya dengan nada jujur yang jarang ia perlihatkan.
Begitu kamera ada di tangan, kata Bedul, ia tidak bisa lagi sepenuhnya hadir di sebuah momen. Pikirannya langsung terbagi—antara mengalami momen itu dan mendokumentasikannya. Lebih sering dari yang ia mau akui, mendokumentasikan yang menang. Ia memotret tawa seseorang tapi tidak ikut tertawa.
"Pernah sekali gue ikut ulang tahun temen lama. Gue bawa kamera. Pulang, gue punya 400 foto. Bagus semua secara teknis. Tapi gue nggak ingat apa yang kita obrolin. Nggak ingat rasa kuenya. Nggak ingat momen lucunya. Gue ada di sana tapi nggak hadir. Dan itu nyesek, bro," tambahnya.
Kamera Sebagai Tembok
Bedul kemudian berteori bahwa kamera bisa menjadi tembok. Sebuah tirai tipis yang memisahkan fotografer dari kenyataan yang seharusnya bisa ia rasakan secara utuh.
"Kamera nggak bisa rekam bau kopi," katanya, sambil melirik cangkirnya. "Nggak bisa rekam suhu ruangan yang pas. Nggak bisa rekam getaran perasaan waktu percakapan lagi enak-enaknya. Sensor secanggih apapun, tetap kalah sama memori yang dibentuk waktu lo benar-benar hadir."
Menurut Bedul, inilah hal yang tidak pernah diajarkan di kelas fotografi mana pun. Semua kelas mengajarkan cara mengatur eksposur, cara membaca cahaya, dan membangun komposisi. Tapi tidak ada yang mengajarkan kapan harus meletakkan kamera dan duduk diam menikmati apa yang ada di depannya.
"Padahal itu mungkin skill paling susah yang harus dikuasai fotografer," katanya. "Tahu kapan harus berhenti motret."
Fotografer Juga Manusia
Menjelang cangkir kopi ketiga, Bedul sampai pada inti dari semua keluhannya. Ia bilang, ia tidak ingin selalu menjadi fotografer. Kadang ia ingin menjadi tamu. Kadang ia ingin menjadi teman.
"Menjadi fotografer itu bagian dari hidup gue, bro. Tapi bukan seluruh hidup gue. Gue juga manusia. Manusia yang kadang pengen duduk di kondangan tanpa ada yang nanya kenapa gue nggak bawa kamera."
Saya tidak menjawab langsung. Saya minum kopi saya, merasakan kehangatan dan jejak ampas kasar di ujung lidah, berpikir sebentar, lalu menyetujuinya. Bedul diam sebentar, lalu memanggil bapak penjaga warung dan memesan gorengan. Begitulah cara Bedul mengakhiri momen yang terlalu serius: dengan gorengan panas di tengah malam yang dingin.
Catatan Akhir
Saya pulang dari warung kopi semalam dengan satu pikiran: betapa mudahnya kita mereduksi seseorang menjadi profesinya. Bedul adalah fotografer—tapi ia juga teman, manusia, orang yang punya hak untuk datang ke kondangan tanpa kamera tanpa harus menjelaskan dirinya kepada siapapun.
Kalau suatu saat Sobat melihat Bedul duduk di sudut ruangan dengan tangan kosong dan ekspresi damai, jangan tanya di mana kameranya. Ia sedang tidak gagal menjadi fotografer. Ia sedang berhasil menjadi manusia.
Karena foto terbaik yang pernah dibuat Bedul mungkin adalah foto yang tidak pernah ia ambil—karena pada momen itu, ia memilih untuk hadir sepenuhnya, dengan kedua matanya sendiri, bukan melalui jendela bidik yang sempit. Dan kenangan tentang malam di warung kopi itu—tentang kopi yang terlalu pahit, gorengan yang terlalu berminyak, suara tawa di meja sebelah, dan keluhan yang ternyata lebih dalam dari yang kami sangka—itu tidak perlu difoto. Sudah cukup diingat.























